Kabaran Jabar, - Nuansa Bali begitu terasa di Kota Cimahi saat dua ogoh-ogoh berukuran raksasa diarak keliling kota. Di bawah terik matahari yang menguji ketahanan umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, pawai ini justru menjadi hiburan sekaligus simbol keberagaman yang hidup berdampingan.
Ogoh-ogoh, yang merupakan representasi perlawanan manusia terhadap hawa nafsu dan energi negatif dalam diri, tampil dalam bentuk patung berwajah seram.
Wujud tersebut melambangkan sisi buruk manusia yang harus dikendalikan dan disucikan, terutama menjelang Hari Raya Nyepi.
Diarak oleh ratusan umat Hindu, pawai ini menarik perhatian warga yang memadati sepanjang Jalan Sriwijaya. Iring-iringan dimulai dari lapangan Pussen Arhanud, kemudian bergerak menuju Jalan Gatot Subroto, sebelum kembali lagi ke titik awal.
Bagi umat Hindu di Cimahi, pawai ogoh-ogoh menjadi obat rindu akan kampung halaman mereka di Pulau Bali.
Apalagi tradisi ini identik dengan perayaan Nyepi yang sarat makna spiritual.
“Senang sekali pastinya bisa ada pawai ogoh-ogoh lagi, jadi kangen Bali. Nuansa Balinya terasa banget meskipun ini di Cimahi,” ujar Gusti Ayu Eka (23), salah satu peserta pawai, Selasa (17/3/2026).
Ia menilai, kehadiran pawai ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga bukti nyata tingginya toleransi di Kota Cimahi. Meski umat Hindu tergolong minoritas, ruang untuk mengekspresikan budaya dan keyakinan tetap terbuka luas.
“Ini juga jadi bukti kalau toleransi di Cimahi itu sangat tinggi. Tahun lalu ada, tahun ini lebih banyak dan lebih meriah,” tambahnya.
Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia Jawa Barat, I Made Riawan, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan bagian penting dalam rangkaian menjelang Nyepi. Tradisi ini mengandung nilai refleksi diri melalui ajaran Tri Kaya Parisudha berpikir, berkata, dan berbuat yang baik.
“Ogoh-ogoh ini melambangkan aura negatif yang harus kita lepaskan sebelum memasuki Nyepi. Karena itu wujudnya dibuat menyeramkan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi suasana keberagaman di Cimahi yang dinilai mampu menjadi contoh harmoni antarumat beragama.
Menurutnya, terselenggaranya pawai ini merupakan impian lama umat Hindu setempat yang kini mulai terwujud.
Sementara itu, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh menjadi simbol kuat kolaborasi dan saling menghormati antarumat beragama, terlebih karena berlangsung di tengah bulan Ramadan.
“Di sinilah letaknya Cimahi, kerukunan dikedepankan. Semua saling menghargai dan menghormati,” ujarnya.
Pawai ogoh-ogoh di Cimahi tak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga penegas bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan di tengah perbedaan. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:



0Komentar