TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto

COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto

COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Ormas Cobra Commando Baros Ranger (COBRA) Kota Cimahi mengapresiasi langkah humanis Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, yang turun langsung ke tengah kemacetan parah di kawasan Underpass Gatot Subroto.

Di tengah situasi lalu lintas yang sempat membuat warga mengeluhkan “macet horor”, Adhitia diketahui membagikan cokelat kepada masyarakat yang terdampak kemacetan.

Bagi COBRA, langkah sederhana tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pemberian makanan ringan.

Ketua Umum COBRA Kota Cimahi, Deddy Supriadi, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan ulang terkait cokelat yang dibagikan dan memastikan bahwa cokelat tersebut merupakan Beng-Beng.
COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto
COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto
“Kami kroscek ulang. Benar, itu Beng-Beng. Dan itu justru kami acungi jempol. Kalau uang itu rawan dipolitisir, tapi kalau Beng-Beng itu bahasa universal: ‘Punten, maaf bikin macet, ini buat ganjel perut dulu ya, kami sedang kerja’. Itu humanis, merakyat, dan tidak menyinggung harga diri warga,” ujar Deddy Supriadi, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, perhatian sederhana tersebut setidaknya dapat mengurangi kekecewaan warga yang harus berhadapan dengan kepadatan lalu lintas.

Anak sekolah yang terlambat dan lapar, pengemudi ojek online yang belum sempat sarapan karena mengejar orderan, hingga ibu-ibu yang harus berlama-lama di atas sepeda motor, tentu dapat merasakan sedikit perhatian ketika menerima makanan ringan tersebut.

“Beng-Beng itu mungkin tidak bisa mengobati macetnya, tetapi bisa mengobati hati warga yang sedang kesal. Itu yang kami apresiasi,” katanya.

Jangan Sampai Beng-Beng Menutupi Masalah Utama

Meski mengapresiasi pendekatan humanis tersebut, Deddy mengingatkan agar pemberian cokelat tidak sampai menggeser persoalan utama yang dihadapi masyarakat.

“Empati dengan cokelat itu baik untuk hari ini. Tapi warga tidak bisa makan Beng-Beng setiap hari selama enam bulan proyek,” tegasnya.

COBRA menyebut, dari hasil komunikasi dengan sejumlah warga terdampak, persoalan utama tetap sama, yakni kelancaran arus lalu lintas dan kepastian penyelesaian pekerjaan.

Seorang pengemudi ojol, misalnya, menyampaikan apresiasi atas pemberian cokelat, tetapi berharap pemerintah juga memastikan jalan kembali lancar.

“Nuhun Kang coklatnya, tapi kalau bisa jalannya dilancarin, saya bisa beli Beng-Beng sendiri satu dus,” ujar Deddy, mengutip keluhan warga.

Keluhan serupa juga datang dari kalangan buruh yang khawatir keterlambatan akibat kemacetan berimbas pada pendapatan.

“Anak saya senang dapat Beng-Beng dari Pak Wakil, tapi besok kalau telat lagi potong gaji lagi, siapa yang tanggung?” kata Deddy, kembali menyampaikan aspirasi warga.

COBRA Titip Tiga Harapan

Atas kondisi tersebut, COBRA menitipkan tiga harapan kepada Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira yang dinilai telah menunjukkan keberanian turun langsung ke lapangan.

Pertama, mempertahankan gaya blusukan dan sidak proyek.

Menurut Deddy, langkah Adhitia yang turun langsung, menegur pihak kontraktor, berkoordinasi dengan Bina Marga Provinsi, mendorong pembukaan dua lajur Underpass Sriwijaya serta mengejar percepatan pembangunan jembatan Pemkot merupakan bentuk kepemimpinan yang konkret.

“Itu solusi. Pertahankan. Jangan hanya sekali viral. Warga butuh pemimpin yang hadir bukan hanya ketika kamera menyala, tetapi ketika persoalan benar-benar terjadi,” ujarnya.

Kedua, menghadirkan posko pengaduan warga terdampak kemacetan.

COBRA menilai keberadaan posko pengaduan yang mudah diakses masyarakat sangat penting selama proyek berlangsung.

“Satu bungkus Beng-Beng menenangkan lima menit. Satu posko aduan warga terdampak macet yang buka 24 jam di kawasan Dustira bisa menenangkan satu kecamatan. COBRA siap ikut menjaga dan berkoordinasi bersama Dishub,” katanya.

Ketiga, mengawal target penyelesaian tiga minggu.

COBRA menyatakan akan ikut mengawasi komitmen percepatan pembangunan jembatan Pemkot selama tiga minggu dan pembukaan dua lajur yang diharapkan dapat mengurangi tekanan lalu lintas.

“Kami akan hitung hari. Jika tiga minggu jembatan Pemkot jadi dan dua lajur dibuka, COBRA yang akan borong 1.000 Beng-Beng dan membagikannya kembali bersama Wawalkot untuk merayakan kelancaran. Tapi jika tidak, kami akan ingatkan lagi dengan cara yang lebih keras,” tegas Deddy.

Apresiasi untuk Empati, Dorongan untuk Solusi Permanen

COBRA menegaskan kritik yang disampaikan bukan ditujukan untuk menjatuhkan pemerintah, melainkan sebagai bentuk pengawalan terhadap kepentingan masyarakat.

Deddy mengapresiasi Adhitia karena telah menunjukkan bahwa pemimpin daerah tidak harus selalu berada di belakang meja ketika masyarakat menghadapi persoalan di lapangan.

“Terima kasih Kang Wakil Wali Kota atas Beng-Beng-nya. Kecil bentuknya, besar empatinya,” ucapnya.

Namun, menurut COBRA, tugas berikutnya jauh lebih besar, yakni memastikan kemacetan akibat pekerjaan infrastruktur tidak menjadi persoalan berkepanjangan.

“Harapan kami, tahun depan warga Cimahi tidak lagi membutuhkan Beng-Beng di tengah kemacetan. Underpass sudah selesai, lalu lintas lancar, dan pohon-pohon yang terdampak pembangunan sudah diganti,” ujarnya.

COBRA menegaskan akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial dengan tetap mengedepankan komunikasi dan kritik yang konstruktif.
COBRA Apresiasi Aksi Humanis Wawalkot di Tengah Macet Underpass Gatot Subroto
Berani Jujur, Tangguh Kawal, Benar Untuk Cimahi.

“COBRA Cimahi akan selalu menjadi kaca benggala yang jujur. Kalau bagus kami bilang bagus, kalau kurang kami akan teriak kurang. Semua demi warga dan masa depan Cimahi,” pungkas Deddy. (Bd20)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar