TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
20 Siswa SMPN 2 Cisarua Muntah, Hasil Labkesda Dinanti

20 Siswa SMPN 2 Cisarua Muntah, Hasil Labkesda Dinanti

20 Siswa SMPN 2 Cisarua Muntah, Hasil Labkesda Dinanti
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Sebanyak 20 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, dilaporkan mengalami keluhan muntah-muntah pada Rabu (21/10/2026). Dari jumlah tersebut, satu siswa juga dilaporkan mengalami diare.

Informasi tersebut tercantum dalam laporan klarifikasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Cisarua Leuwimalang 01. Dalam laporan itu, susu kemasan yang didistribusikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sebagai salah satu dugaan penyebab kejadian.

Meski demikian, penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang telah dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) masih diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya masalah pada produk yang dikonsumsi.
Siab mang baru bangun mang, pulang lansung tidur hehe
Siab mang baru bangun mang, pulang lansung tidur hehe
Berdasarkan laporan klarifikasi yang disampaikan Kepala SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01, Fima Aditya Nugraha, pihaknya menerima informasi dari SMP Negeri 2 Cisarua pada pukul 08.30 WIB mengenai sejumlah siswa yang mengalami muntah-muntah.

Sekitar pukul 08.40 WIB, Kepala SPPG tiba di lokasi dan menemui seorang siswa yang telah mendapatkan perawatan bersama wali kelas dan orang tua siswa.

Dalam komunikasi tersebut, pihak SPPG menanyakan makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelum keluhan muncul. Berdasarkan keterangan yang dicantumkan dalam laporan, siswa tersebut menyampaikan bahwa dirinya hanya mengonsumsi susu sebelum mengalami muntah-muntah.

Jumlah siswa yang mengalami keluhan serupa kemudian bertambah. Menjelang pukul 10.00 WIB, total siswa yang dilaporkan mengalami keluhan mencapai 20 orang. Sebagian besar mengalami muntah-muntah, sedangkan satu siswa mengalami muntah-muntah disertai diare.

Laporan SPPG mencatat bahwa distribusi makanan dan minuman MBG ke SMP Negeri 2 Cisarua tiba pada pukul 08.03 WIB. Pengiriman tersebut mencakup seluruh kelas, termasuk siswa yang mengikuti jam masuk pagi.

Produk susu yang menjadi perhatian dalam laporan tersebut adalah Diamond UHT Full Cream dalam kemasan.

Pihak SPPG menduga kejadian tersebut berkaitan dengan produk susu yang didistribusikan, terutama karena terdapat kemasan yang dilaporkan mengalami kerusakan atau dinilai tidak layak.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab langsung munculnya keluhan pada para siswa. Hubungan antara produk susu dan kejadian tersebut masih harus ditelusuri melalui hasil pemeriksaan laboratorium serta evaluasi medis.

Sampel terkait telah dikirimkan ke Labkesda untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pengujian diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi produk dan membantu menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.

Dalam laporan yang sama, pihak SPPG menyebut telah berkoordinasi dengan puskesmas untuk mendukung penanganan medis dan pencatatan kejadian menonjol.

Koordinasi juga dilakukan dengan Babinsa, perangkat daerah setempat, serta pihak kecamatan. Sementara itu, para siswa yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan dari pihak puskesmas dan rumah sakit.

Pihak SPPG turut menyampaikan bahwa mereka telah menemui pasien sebagai bagian dari tindak lanjut atas kejadian tersebut.

Perkembangan kondisi para siswa, hasil pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi terhadap proses distribusi MBG menjadi informasi penting yang perlu disampaikan secara terbuka oleh pihak terkait.

Kejadian ini menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan kualitas pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, khususnya produk kemasan yang didistribusikan kepada peserta didik.

Pengawasan perlu mencakup kondisi kemasan, kelayakan produk, proses penyimpanan, mekanisme distribusi, serta pemeriksaan sebelum makanan dan minuman diberikan kepada siswa.

Apabila ditemukan produk yang kemasannya rusak atau tidak memenuhi persyaratan kelayakan, produk tersebut perlu dipisahkan dan tidak didistribusikan sebelum dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur.

Di sisi lain, penetapan penyebab kejadian harus didasarkan pada hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan dugaan atau urutan waktu konsumsi.

Publik juga perlu memperoleh informasi resmi mengenai perkembangan kondisi siswa, hasil pengujian sampel, serta langkah evaluasi dan perbaikan yang akan dilakukan apabila ditemukan ketidaksesuaian pada produk atau proses distribusi.

Kabaran Jabar akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan mendorong pihak sekolah, SPPG, dinas kesehatan, serta instansi terkait menyampaikan informasi secara transparan demi menjamin keselamatan peserta didik dan mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang aman.

Catatan: Hingga hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi medis tersedia, susu kemasan yang disebut dalam laporan masih berstatus dugaan, bukan penyebab yang telah terkonfirmasi. (-red/Poy)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar