TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Dari Pandeglang Menembus Panggung Libya

Dari Pandeglang Menembus Panggung Libya

Dari Pandeglang Menembus Panggung Libya
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Di panggung dakwah nasional, nama Ustaz Adi Hidayat atau yang akrab disapa UAH kerap menjadi magnet perhatian.

Ceramahnya bukan sekadar retorika. Ia mampu menyebutkan ayat Al-Qur’an lengkap dengan nomor surat, halaman, bahkan posisi barisnya dalam mushaf.

Kemampuan luar biasa itu membuat banyak jemaah tertegun namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang penuh disiplin dan pengorbanan.

Anak Pandeglang yang Tumbuh dengan Prestasi

Lahir di Pandeglang pada 11 September 1984, Adi Hidayat telah menunjukkan kecerdasan sejak usia dini.

Di bangku sekolah dasar, ia dikenal sebagai siswa berprestasi yang kerap meraih peringkat pertama. Bahkan, ia hampir melanjutkan pendidikan ke SMP negeri unggulan.

Namun takdir membawanya ke jalur berbeda. Sang orang tua, melalui pengalaman spiritual yang mendalam, mengarahkan Adi untuk memperdalam ilmu agama.

Sejak itu, hari-harinya diisi dengan sekolah formal pada pagi hari dan pendidikan agama hingga sore. Pola pendidikan ganda inilah yang membentuk karakter intelektual sekaligus spiritualnya.

Menembus Batas Negeri, Menimba Ilmu Dunia

Perjalanan akademiknya berlanjut di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut sebelum melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di kampus tersebut, ia mencatatkan IPK hampir sempurna, 3,98 sebuah capaian akademik yang mencerminkan konsistensi dan ketekunannya.

Tahun 2005 menjadi titik penting ketika ia melanjutkan studi ke Libya. Di sana, UAH tak hanya belajar secara formal, tetapi juga berguru langsung kepada para ulama internasional.

Di antaranya adalah Wahbah az-Zuhaili, ulama besar Suriah penulis Tafsir Al-Munir, serta sejumlah masyayikh lainnya.

Keilmuan dan integritasnya membuat ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Khatib di Tripoli pada 2009 sebuah amanah prestisius yang jarang diberikan kepada non-Arab.

Metode At-Taisir dan Dakwah Era Digital

Sekembalinya ke Indonesia pada 2011, UAH tidak hanya aktif berceramah, tetapi juga membangun sistem pendidikan berbasis metode At-Taisir.

Metode ini dirancang untuk memudahkan umat Islam dalam menghafal Al-Qur’an secara sistematis dan menyenangkan.

Ia mendirikan Quantum Akhyar Institute dan aktif berdakwah melalui kanal digital seperti Akhyar TV.

Gaya penyampaiannya logis, runtut, serta selalu menyertakan rujukan kitab yang jelas. Pendekatan ini membuatnya dekat dengan generasi milenial yang haus dalil namun tetap ingin penjelasan rasional.

Kepedulian Sosial dan Dedikasi Pendidikan

Kecerdasannya berpadu dengan kepedulian sosial. Pada 2021, UAH berhasil menggalang donasi sekitar Rp30 miliar dalam waktu enam hari untuk membantu Palestina sebuah capaian yang menunjukkan kepercayaan publik terhadap integritasnya.

Ia juga mendirikan Ma’had Islam Rafiah Akhyar (MIRA), pesantren berbasis virtual yang didedikasikan untuk pengembangan pendidikan Islam dan sebagai bentuk bakti kepada ibundanya.

Atas kontribusinya dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Jembatan Ilmu di Era Modern

Dari kota kecil di Banten hingga panggung internasional di Afrika Utara, perjalanan Ustaz Adi Hidayat adalah potret ketekunan tanpa henti.

Ia bukan sekadar penghafal Al-Qur’an dengan memori fotografis, tetapi representasi ulama muda yang mampu menjembatani khazanah klasik dengan kebutuhan umat modern.

Ketajaman ilmu, kedalaman adab, serta konsistensi dakwah menjadikan UAH salah satu figur sentral dalam lanskap keislaman Indonesia hari ini menginspirasi generasi untuk mencintai ilmu, bukan sekadar mengaguminya. (Wikipedia)
Dari Pandeglang Menembus Panggung Libya
Ustaz Adi Hidayat Lahir di Pandeglang pada 11 September 1984.

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar