Kabaran Jabar, - Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya penilaian di era digital, refleksi tentang makna menjadi manusia kembali mengemuka. Banyak kalangan menilai bahwa masyarakat kian mudah memberi label baik berupa pujian maupun prasangka tanpa benar-benar memahami kedalaman pribadi seseorang.
Manusia sejatinya bukan sekadar cerminan dari sanjungan yang disematkan, juga bukan sepenuhnya bayangan dari kecurigaan yang disimpan orang lain.
Di balik sikap yang tampak, tersimpan ruang sunyi berisi niat, luka, dan pergulatan batin yang jarang terlihat. Realitas ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki cerita yang tak selalu tersampaikan.
Fenomena penilaian instan kerap terjadi: seseorang dihakimi dari satu kesalahan, atau sebaliknya diagungkan hanya karena satu kebaikan.
Padahal, watak dan jiwa manusia bergerak dinamis, laksana ombak yang kadang jernih dan kadang keruh.
Tidak ada pribadi yang sepenuhnya terang, dan tak pula ada yang sepenuhnya gelap. Yang ada adalah proses panjang untuk terus bertumbuh.
Perlu diperkuat agar masyarakat tidak terjebak pada kesimpulan sepihak. Pemahaman dinilai lebih penting dibanding penilaian.
Kebaikan kecil, yang mungkin tampak sederhana pada akhirnya, kehidupan adalah perjalanan memperbaiki diri tanpa henti.
Kesempurnaan mungkin tak pernah benar-benar tercapai, namun upaya untuk menjadi lebih baik serta memandang sesama dengan kelembutan adalah nilai yang selalu relevan di tengah dinamika zaman.
Oleh: Mas Bons
![]() |
| Manusia sejatinya bukan sekadar cerminan dari sanjungan yang disematkan, juga bukan sepenuhnya bayangan dari kecurigaan yang disimpan orang lain. (Foto: Pixabay) |
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar