Kabaran Jabar, - Dunia musik keras Indonesia pernah kehilangan salah satu pionirnya ketika Irfan Sembiring meninggal dunia pada Selasa, 16 Februari 2021. Ia dikenal luas sebagai pendiri band thrash metal legendaris Rotor.
Namun, beberapa tahun sebelum wafat, arah hidupnya berubah. Dari panggung penuh distorsi, Irfan melangkah lebih dalam ke dunia dakwah dan perenungan spiritual.
Perubahan itu bukan berarti ia menanggalkan masa lalunya. Justru, Irfan menjalaninya dengan kejujuran yang jarang ditemui. Fenomena hijrah musisi yang kemudian mengharamkan musik sempat menjadi perbincangan hangat. Bahkan, pertanyaan itu pernah dilontarkan langsung oleh Bimbim saat Irfan berkunjung ke markas Slank di Potlot.
“Fan, menurut lo musik itu halal atau haram?” tanya Bimbim kala itu.
Alih-alih menjawab dengan vonis, Irfan justru mengalihkan fokus pada hal yang lebih mendasar. Ia bertanya balik, apakah meninggalkan salat itu haram, dan apakah kewajiban itu sudah ditunaikan. Bagi Irfan, memperdebatkan cabang tanpa menguatkan akar hanya akan memicu pertengkaran. Musik, katanya, bukan pokok agama yang pokok adalah lima rukun Islam. Kerjakan dulu yang utama, baru bicara soal ranting.
Sikap lugas itu pula yang membuatnya menolak tawaran membuat lagu religi, meski contoh sukses seperti Opick kerap dijadikan pembanding. Irfan memilih jujur pada dirinya sendiri. Ia tak ingin menjadikan religi sebagai strategi pasar, apalagi sekadar citra.
Menjelang akhir hayatnya, Irfan tetap berdiri di antara dua dunia: iman dan metal. Pada 2019, Rotor merilis ulang album klasik mereka ke platform digital. Disusul perilisan ulang album Behind the 8th Ball dalam format piringan hitam pada Januari 2021. Sebuah penegasan bahwa sisi gelap, sebagaimana ia menyebutnya, adalah bagian dari perjalanan manusia.
“Kalau gue main musik lagi, tetap yang ngeri,” ucapnya suatu ketika.
Ia menyebutnya sebagai the dark side of the moon bagian gelap yang tak ia pungkiri. Baginya, urusan dosa dan pahala adalah dialog personal dengan Tuhan, bukan panggung penghakiman publik.
Irfan Sembiring pergi dengan warisan yang tak hanya berupa riff cepat dan dentuman keras, tetapi juga keberanian untuk jujur pada proses spiritualnya sendiri.
Di tengah riuh perdebatan halal-haram, ia memilih satu hal yang sederhana: benahi yang pokok, sebelum sibuk mengadili yang lain. **
![]() |
| Salah satu pionir ketika Irfan Sembiring meninggal dunia pada Selasa, 16 Februari 2021. Ia dikenal luas sebagai pendiri band thrash metal legendaris Rotor. |
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar