Kabaran Jabar, - Konflik di Timur Tengah tidak hanya terjadi di medan perang antara Israel dan kelompok yang didukung Iran. Kini, perang yang lebih sunyi justru berlangsung di ruang yang tak terduga: media, studio televisi, dan media sosial.
Salah satu momen yang memicu perdebatan publik terjadi dalam sebuah talkshow di iNews TV, ketika influencer kontroversial Permadi Arya yang dikenal sebagai Abu Janda terlibat perdebatan panas dengan seorang profesor mengenai konflik Israel–Palestina.
Bagi sebagian penonton, itu hanya debat biasa.
Namun bagi para pengamat geopolitik, peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih besar:
Apakah Indonesia mulai menjadi arena perang narasi global?
Dari Bom ke Narasi: Medan Baru Konflik Global
Dalam era digital, kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah rudal atau tank.
Kekuatan baru justru terletak pada kemampuan membentuk opini publik global.
Di sinilah muncul istilah Hasbara strategi diplomasi publik yang digunakan oleh Israel untuk menjelaskan dan mempertahankan kebijakannya di mata dunia.
Strategi ini biasanya berjalan melalui beberapa jalur:
kampanye media internasional
jaringan akademisi dan analis
influencer media sosial
framing isu di ruang debat publik.
Tujuannya sederhana namun kuat:
mengubah cara dunia melihat konflik.
Studio TV Sebagai Medan Perang Opini
Debat antara Abu Janda dan seorang profesor di televisi nasional menjadi simbol bagaimana perang narasi global bisa masuk ke ruang diskusi lokal.
Dalam debat tersebut, Abu Janda mengambil posisi yang tidak lazim bagi opini publik Indonesia: membela perspektif Israel dan mengkritik sikap negara-negara Muslim di Timur Tengah.
Posisi ini langsung memicu kontroversi besar.
Bagi sebagian pihak, itu dianggap sebagai pendapat pribadi yang berbeda dari arus utama.
Namun bagi yang lain, pola tersebut terlihat seperti cerminan strategi komunikasi yang sering dikaitkan dengan operasi narasi global.
Indonesia: Target Baru Perang Informasi?
Indonesia memiliki posisi unik dalam geopolitik opini publik dunia.
Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, simpati publik terhadap Palestina sangat kuat.
Karena itu, setiap narasi yang mencoba menggeser framing konflik akan langsung memicu reaksi luas.
Dalam konteks ini, analis komunikasi politik melihat tiga pola yang mulai muncul:
Influencer sebagai pembawa narasi geopolitik
Debat televisi sebagai arena framing konflik
Media sosial sebagai amplifier opini global
Dengan kata lain, perang di Timur Tengah kini memiliki front baru: ruang digital Indonesia.
Pertanyaan Besar yang Menggantung
Namun satu hal tetap harus dicatat.
Tidak ada bukti langsung bahwa tokoh seperti Abu Janda merupakan bagian dari jaringan operasi propaganda internasional.
Pandangan yang ia sampaikan bisa saja murni opini pribadi atau interpretasi geopolitik yang berbeda.
Meski begitu, fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar:
Perang modern tidak selalu dimenangkan di medan tempur tetapi di pikiran publik.
Ketika Narasi Menjadi Senjata
Di abad ke-21, negara-negara besar dari United States hingga Russia dan China telah lama menggunakan information warfare sebagai bagian dari strategi geopolitik mereka.
Narasi menjadi senjata.
Influencer menjadi prajurit opini.
Dan media menjadi medan tempur baru.
Jika tren ini terus berkembang, maka pertanyaan besar bagi Indonesia bukan lagi:
“Siapa yang benar dalam konflik Timur Tengah?”
Melainkan:
“Siapa yang sedang membentuk cara kita melihat konflik itu?”
Oleh: Ridwan Subakti
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar