TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Poros Baru Teluk Guncang Hegemoni AS

Poros Baru Teluk Guncang Hegemoni AS

Poros Baru Teluk Guncang Hegemoni AS
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Mantan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfuz Sidik, mendorong negara-negara kawasan Teluk untuk segera membentuk aliansi baru sebagai langkah strategis mengakhiri dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.

Gagasan tersebut disampaikan dalam forum diskusi Bola Liar Kompas TV bertajuk “Iran Unggul Strategis, Trump Mau Invasi Darat atau Negosiasi?” yang digelar di Jakarta, Jumat malam (27/3/2026).

Menurut Mahfuz, momentum konflik yang melibatkan Iran menjadi titik balik penting bagi peta kekuatan global di kawasan.

Ia menilai, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain perlu memperluas kerja sama dengan negara lain seperti Irak dan Turki.

“Iran bahkan sudah mengajukan proposal aliansi bersama. Ini bukan hanya soal keamanan, tapi juga ekonomi dan politik,” ujar Mahfuz.

Ia menilai konflik yang berlangsung menjadi “gong” berakhirnya dominasi Amerika di kawasan.

Bahkan, menurutnya, langkah Donald Trump dalam konflik ini dinilai salah kalkulasi dan gagal mencapai target strategis.

Mahfuz menyebut, perang asimetris yang terjadi justru menempatkan Iran dalam posisi lebih unggul.

Ia meyakini wacana invasi darat oleh Amerika hanyalah bagian dari strategi komunikasi politik untuk meredam tekanan domestik.

“Trump kini lebih berpikir bagaimana mengakhiri perang tanpa kehilangan muka, bukan memenangkan perang,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kegagalan pendekatan militer Amerika yang dinilai tidak memiliki arah jelas sejak awal.

Bahkan, klaim keberhasilan serangan besar-besaran ke Teheran disebutnya tidak terbukti sebagai kemenangan mutlak.

Dalam dinamika terbaru, upaya negosiasi yang melibatkan negara seperti Pakistan dan Qatar disebut belum menemukan titik terang. Iran, kata Mahfuz, menolak berbagai tuntutan yang diajukan Amerika.

Lebih jauh, ia mengingatkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis oleh Amerika atau Israel.

Tekanan politik domestik terhadap Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dinilai menjadi faktor pendorong situasi tersebut.

Di sisi lain, Mahfuz melihat adanya skenario di mana Amerika justru akan tampil sebagai “penyelamat” setelah membiarkan eskalasi konflik meningkat, terutama saat krisis energi global mulai terasa.

“Ketika dunia mulai kesulitan energi, Amerika bisa masuk sebagai pihak yang menghentikan perang atas nama kepentingan global,” ujarnya.

Diskusi ini juga menghadirkan sejumlah pakar lintas bidang, mulai dari analis militer, akademisi, hingga peneliti geopolitik, yang turut mengupas kompleksitas konflik dan masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Situasi ini menandai babak baru persaingan global, di mana poros kekuatan lama mulai digugat, dan kemungkinan lahirnya tatanan baru di Timur Tengah kian terbuka. (Bd20)
Poros Baru Teluk Guncang Hegemoni AS

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar