TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Xenoglosofilia: Ancaman terhadap Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Globalisasi. Tidak semua perjuangan lahir dari podium megah atau tepuk tangan meriah. Sebagian hadir diam-diam, dari ruang rumah sakit, suara yang melemah, dan tubuh yang masih berusaha pulih.

Namun, dari kondisi itulah semangat seorang mahasiswa magister Universitas Pendidikan Indonesia tumbuh menjadi kisah inspiratif tentang keberanian, pendidikan, dan pengabdian lintas negara.

Karina Diah Rahmawati, mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang berhasil menjadi delegasi Fully Funded International Volunteer and Education Conference (IVEC) Malaysia 2025 di tengah perjuangannya melawan kanker tiroid.

Program internasional tersebut diselenggarakan oleh Garuda Nusa Foundation, sebuah organisasi kepemudaan yang dikenal aktif mengembangkan kepemimpinan, pendidikan, serta gerakan sosial bagi generasi muda Indonesia.

Organisasi ini didirikan oleh Anton Agus Setiawan pada tahun 2019 dengan visi membangun ruang kolaborasi pemuda Indonesia agar mampu menjadi agen perubahan di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat. (MITRATODAY)

Berawal dari gerakan sosial di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), Garuda Nusa berkembang menjadi NGO kepemudaan yang membuka akses program nasional hingga internasional bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia.

Berbagai kegiatan seperti youth conference, international volunteer, culture exchange, hingga pengabdian pendidikan di luar negeri menjadi ciri khas organisasi tersebut. (Universitas Muhammadiyah North Sumatra)

Salah satu program unggulannya adalah International Volunteer and Education Conference (IVEC) Malaysia 2025, sebuah program volunteer pendidikan dan konferensi internasional yang mempertemukan pemuda Indonesia untuk mengajar anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia sekaligus mengikuti forum pendidikan internasional. Program tersebut mengusung semangat “4 Hari Mengabdi, Selamanya Menginspirasi.” (infolomba.id)

Di tengah ratusan pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia, Karina berhasil lolos sebagai delegasi fully funded. Namun, keberhasilannya menuju Malaysia bukan sekadar perjalanan akademik biasa. Ada perjuangan panjang yang tidak banyak diketahui orang.

Divonis Kanker di Tengah Perjalanan Akademik

Awal tahun 2025 menjadi titik yang mengubah hidup Karina. Di tengah aktivitas perkuliahan magister, kegiatan akademik, dan kesibukan dunia pendidikan, ia didiagnosis mengidap kanker tiroid. Diagnosis tersebut mengharuskannya menjalani operasi tiroidektomi total atau pengangkatan seluruh kelenjar tiroid.

Operasi itu tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga mengubah kehidupannya secara permanen. Pascaoperasi, Karina harus menjalani terapi hormon dan mengonsumsi obat seumur hidup untuk menggantikan fungsi hormon tiroid dalam tubuhnya. Kondisi pita suara yang terdampak selama tindakan medis juga membuat suaranya menjadi serak selama 6 bulan dan menjalani terapi wicara sampai ia pulih.

Bagi seseorang yang aktif sebagai pembicara publik, MC, penyiar, dan akademisi bahasa, kehilangan kualitas suara tentu menjadi tantangan emosional tersendiri. Namun, di tengah kondisi tersebut, Karina memilih untuk tidak berhenti.

“Ketika divonis kanker, saya sempat berpikir apakah semua mimpi saya akan selesai sampai di situ. Tapi ternyata hidup tetap harus berjalan, dan saya ingin tetap hidup dengan makna,” ujarnya.

Meski baru menjalani operasi dan masih dalam masa pemulihan, Karina tetap mempersiapkan keberangkatannya ke Malaysia. Dengan izin terbang dari dokter Bedah Onkologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, ia akhirnya berangkat mengikuti IVEC Malaysia pada Juni 2025.

Program tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan internasional ke luar negeri selama menjadi mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia UPI. Di balik perjalanan itu, tersimpan perjuangan besar: membawa tubuh yang belum sepenuhnya pulih untuk tetap mengabdi dan belajar di negeri orang.

Sosok Mahasiswa Bahasa yang Aktif Berprestasi

Karina bukan nama baru dalam dunia akademik dan kepemudaan. Berdasarkan profil profesionalnya, ia merupakan lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI tahun 2022 dengan predikat cumlaude. Ia juga dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang lulus tanpa skripsi melalui publikasi artikel ilmiah SINTA 3 berjudul “Xenoglosofilia: Ancaman terhadap Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Globalisasi.” (LinkedIn)

Selain aktif dalam bidang linguistik dan pendidikan bahasa Indonesia, Karina juga memiliki pengalaman panjang di dunia organisasi dan komunikasi publik. Ia pernah menjadi penyiar radio kampus, Duta Kampus Putra Putri Bumi Siliwangi UPI, dan menjabat sebagai Ketua angkatan dan Wakil Ketua Ikatan Duta Bahasa Jawa Barat, hingga delegasi International Model United Nations & Brand Ambassador program Edusantara Global Youth Innovation 3 Chapter Malaysia, Singapore & Thailand 2025. (LinkedIn)

Latar belakang tersebut membuatnya memiliki perhatian besar terhadap isu bahasa, budaya, dan pendidikan Indonesia, terutama dalam konteks globalisasi dan diaspora Indonesia di luar negeri.

Mengajar Anak Migran Indonesia di Malaysia

Selama program IVEC berlangsung, Karina terlibat langsung dalam kegiatan volunteer pendidikan untuk anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Program ini menjadi bentuk nyata pengabdian pendidikan yang selama ini diusung Garuda Nusa Foundation. (Universitas Muhammadiyah North Sumatra)

Di sana, ia bersama delegasi lain mengajarkan bahasa, budaya, serta nilai kebangsaan Indonesia kepada anak-anak diaspora yang tumbuh di lingkungan multikultural. Tidak hanya mengajar, para delegasi juga mengikuti konferensi internasional, forum pendidikan, dan kunjungan akademik lintas negara.

Meski kondisi fisiknya belum stabil dan suaranya masih serak, Karina tetap aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semangatnya dalam berdiskusi, mengajar, dan membangun interaksi lintas budaya justru menjadi perhatian banyak peserta lainnya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Karina berhasil membawa pulang nominasi Best Delegate, penghargaan yang diberikan kepada delegasi dengan kontribusi dan performa terbaik selama program internasional berlangsung.

Tidak berhenti di situ, ia juga berhasil menerbitkan prosiding jurnal ilmiah berjudul “Menjaga Akar di Negeri Seberang: Internasionalisasi Bahasa dan Budaya Indonesia bagi Anak Pekerja Migran di Malaysia.” dalam Riksa Bahasa XIX  

Tulisan tersebut membahas pentingnya menjaga identitas bahasa Indonesia bagi anak-anak pekerja migran di luar negeri agar tidak kehilangan akar budaya bangsa. Kajian itu sekaligus menjadi bentuk kontribusi akademiknya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di tingkat internasional.

Kisah Karina menjadi potret bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga keberanian bertahan di tengah ujian hidup. Di saat banyak orang memilih berhenti karena keterbatasan, ia justru memilih melangkah lebih jauh hingga ke luar negeri untuk mengabdi.

Perjalanannya juga menunjukkan bagaimana organisasi kepemudaan seperti Garuda Nusa Foundation mampu membuka ruang tumbuh bagi generasi muda Indonesia untuk belajar, berjejaring, dan memberikan dampak nyata di masyarakat global. (LinkedIn)

Kini, nama Karina Diah Rahmawati tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa magister atau pegiat bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai simbol ketangguhan seorang penyintas kanker yang tetap memilih bermimpi, berkarya, dan menginspirasi. Di balik suara yang masih serak akibat operasi, tersimpan suara lain yang jauh lebih kuat: suara tentang harapan, ketekunan, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti memberi arti bagi dunia. (Bd20)
Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Karina Harumkan Indonesia di Malaysia

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar