Kabaran Jabar, - Hubungan antara Donald Trump dan Xi Jinping kembali menjadi sorotan dunia setelah keamanan di sekitar Lapangan Tiananmen diperketat menjelang kunjungan penting Presiden Amerika Serikat ke Beijing.
Rumor mengenai parade khusus dan persiapan acara kenegaraan besar beredar luas di media sosial China. Pemerintah China disebut tengah menyiapkan penyambutan istimewa untuk Trump, termasuk jamuan resmi kenegaraan hingga kunjungan ke kompleks kuil kekaisaran bersejarah di Beijing.
Pertemuan dua pemimpin negara adidaya ini diprediksi menjadi salah satu momen paling menentukan dalam hubungan global beberapa tahun terakhir. Agenda pembicaraan mencakup perang dagang AS–China, ketegangan di Taiwan, konflik Iran, hingga persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Selama beberapa bulan terakhir, perhatian Trump lebih banyak tertuju pada konflik Iran, operasi militer kawasan Barat, serta persoalan domestik Amerika Serikat. Namun situasi berubah drastis menjelang lawatannya ke China.
Secara ekonomi, perang dagang berkepanjangan dan konflik di Timur Tengah memberikan tekanan besar terhadap ekonomi China yang tengah melambat. Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran disebut memengaruhi biaya produksi industri China hingga 20 persen, terutama sektor petrokimia, tekstil, dan plastik.
Meski demikian, Beijing dinilai tetap berada dalam posisi strategis karena memiliki cadangan minyak besar, dominasi energi terbarukan, serta kekuatan industri kendaraan listrik.
Di sisi lain, China juga mulai memainkan peran penting dalam upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Beijing bersama Pakistan dikabarkan mendorong skema gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas ekonomi global.
Persoalan Taiwan juga dipastikan menjadi topik sensitif dalam pertemuan tersebut. Pemerintah China terus meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan, sementara pemerintahan Trump mengirim sinyal campuran terkait komitmen pertahanan Amerika terhadap pulau tersebut.
Selain geopolitik, isu perdagangan menjadi perhatian utama. Kedua negara sebelumnya sempat berada di ambang perang dagang besar setelah kebijakan tarif tinggi diberlakukan secara bergantian sepanjang 2025.
Dalam kunjungan ini, Trump dikabarkan akan mendorong peningkatan pembelian produk pertanian Amerika oleh China. Sementara Beijing berharap Washington menghentikan penyelidikan dagang baru terkait praktik bisnis China.
Tak hanya itu, persaingan teknologi dan AI turut menjadi sorotan. Amerika Serikat menuding sejumlah perusahaan teknologi China melakukan pencurian teknologi AI, sementara China terus mempercepat pengembangan robot humanoid dan kecerdasan buatan untuk mendukung ekonomi masa depan.
Dikutip dari BBC pada Rabu (13/5/2026), pertemuan Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung pada 14–15 Mei 2026 di Beijing. Meski berlangsung singkat, pertemuan ini diyakini dapat menentukan arah hubungan Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun ke depan, baik menuju kerja sama strategis maupun persaingan yang semakin tajam. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar