Kabaran Jabar, - Rapat Paripurna Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang digelar di Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, berhasil mencuri perhatian publik. Bukan karena kemewahan acara, melainkan karena suasana sidang yang berlangsung sederhana dengan anggota DPRD dan jajaran pejabat daerah duduk menggunakan meja dan bangku sekolah dasar (SD) di kawasan kaki Gunung Halimun Salak.
Pemerintah Kabupaten Bogor menyebut konsep tersebut sebagai simbol kesederhanaan, napak tilas sejarah, sekaligus upaya mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat di wilayah pelosok. Desa Malasari dipilih karena memiliki nilai historis sebagai salah satu titik awal pemerintahan Kabupaten Bogor pada masa lampau.
Pemandangan para anggota dewan yang mengikuti rapat paripurna menggunakan bangku SD menjadi sorotan dan viral di berbagai kalangan. Pemerintah menilai konsep tersebut mencerminkan kesederhanaan serta kedekatan dengan alam dan masyarakat.
Namun di balik simbolisme tersebut, muncul pertanyaan yang lebih substansial. Apakah Desa Malasari hanya menjadi panggung seremoni perayaan HJB, atau justru akan menjadi prioritas pembangunan setelah seluruh rangkaian acara berakhir?
Bangku SD yang digunakan dalam sidang tersebut secara tidak langsung mengingatkan publik pada berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi kawasan Bogor Barat. Mulai dari akses pendidikan, infrastruktur jalan, transportasi, jaringan komunikasi, hingga pemerataan pembangunan yang selama ini masih menjadi harapan masyarakat.
Pemilihan Desa Malasari sebagai lokasi HJB memang memiliki dasar historis yang kuat. Pemerintah Kabupaten Bogor menyebut wilayah ini sebagai bagian penting dari sejarah lahirnya Kabupaten Bogor, termasuk keberadaan jejak pendopo bupati pertama yang menjadi landasan konsep napak tilas pada peringatan HJB tahun ini.
Namun sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang. Selama ini Malasari lebih dikenal sebagai kawasan wisata alam yang eksotis dibanding sebagai wilayah yang mendapatkan percepatan pembangunan infrastruktur. Letaknya yang cukup jauh dari pusat pemerintahan di Cibinong membuat sebagian masyarakat masih merasakan ketimpangan pembangunan dibanding wilayah lainnya.
Pelaksanaan HJB di Malasari diharapkan tidak hanya memberikan dampak ekonomi sesaat melalui sektor homestay, UMKM, dan aktivitas wisata lokal. Lebih dari itu, masyarakat menaruh harapan besar agar momentum ini menjadi titik awal perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan kawasan Bogor Barat.
Ukuran keberhasilan kegiatan ini tidak hanya dilihat dari ramainya kunjungan selama acara berlangsung. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari langkah nyata setelah perayaan usai. Apakah akses jalan menuju Malasari akan semakin baik, fasilitas pendidikan mendapatkan perhatian lebih besar, layanan kesehatan meningkat, serta potensi wisata dan ekonomi lokal memperoleh dukungan berkelanjutan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, rapat paripurna Hari Jadi Bogor dilaksanakan di kawasan pedesaan dengan konsep terbuka dan sederhana. Momentum ini telah menciptakan catatan sejarah baru bagi Kabupaten Bogor.
Namun sejarah akan menjadi lebih bermakna apabila diikuti kebijakan nyata yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan simbol kesederhanaan, melainkan bukti bahwa ketika pemerintah hadir di pelosok, pembangunan juga hadir bersama mereka.
Bangku SD yang digunakan dalam sidang paripurna HJB ke-544 hari ini dapat menjadi simbol kebanggaan. Namun di saat yang sama, bangku tersebut juga menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang menanti penyelesaian demi terwujudnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Bogor.
Kini publik menanti jawabannya: apakah Malasari hanya menjadi lokasi perayaan Hari Jadi Bogor, atau benar-benar menjadi titik awal pemerataan pembangunan yang selama ini dijanjikan. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar