Kabaran Jabar, - Semangat pelestarian seni dan budaya kembali menggema di Alun-Alun Kota Cimahi. Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) menggelar pentas kolosal tari khas Cimahi sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang dilaksanakan di Alun-alun Kota Cimahi cukup meriah, pada Minggu (23/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi panggung bagi ratusan penari dari berbagai sanggar seni untuk menampilkan karya budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tari Kota Cimahi kepada masyarakat.

Ketua Panitia DKKC sekaligus Ketua Pelaksana, Ganda, menyampaikan bahwa kegiatan pentas tari tersebut telah memasuki tahun kesembilan sejak pertama kali digagas. Tahun ini, kegiatan melibatkan 16 sanggar seni se-Kota Cimahi dengan total 1.072 penari.
DKKC Hidupkan Alun-Alun Cimahi Lewat Pentas Kolosal Tari Khas Kota
DKKC Hidupkan Alun-Alun Cimahi Lewat Pentas Kolosal Tari Khas Kota
“Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang selama ini memberikan dukungan kepada anak-anak untuk mengikuti latihan di sanggar,” ujar Ganda dalam sambutannya.

Menurutnya, keberhasilan pentas kolosal tersebut tidak terlepas dari dukungan para orang tua, sekolah, guru, pelatih, seniman, serta seluruh pengelola sanggar seni di Kota Cimahi. Kegiatan juga melibatkan peserta didik dari sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Ganda menegaskan, penyelenggaraan pentas tidak semata-mata menjadi hiburan, tetapi merupakan bagian dari upaya mempertahankan dan memperkenalkan karya seni tari yang menjadi identitas Kota Cimahi.

Menariknya, kegiatan tersebut dilaksanakan secara swadaya oleh para pengurus dan sanggar seni. Keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang bagi para pelaku seni untuk tetap berkarya. Bahkan, sebagian kebutuhan kegiatan diperoleh melalui penjualan cendera mata berupa gantungan kunci.

“Walaupun dengan keterbatasan anggaran, alhamdulillah kegiatan ini tetap bisa terlaksana. Ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus mandiri dan berkarya,” katanya.
DKKC Hidupkan Alun-Alun Cimahi Lewat Pentas Kolosal Tari Khas Kota
Sementara itu, Ketua DKKC Teh Tari memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberlangsungan kegiatan tersebut. Ia menyebut pentas tari Agustusan merupakan agenda yang berawal dari gagasan para tokoh budaya dan seniman Cimahi sejak 2019.

Pada 2020, kegiatan sempat digelar secara virtual akibat pandemi COVID-19. Setelah itu, pentas kembali dilaksanakan setiap tahun dengan menghadirkan beragam karya tari.

Dalam pentas kolosal tahun 2026, DKKC menampilkan sejumlah karya yang disebut menjadi bagian penting dari identitas seni budaya Kota Cimahi, di antaranya Tari Kasunyatan, Tari Cimahi Kiwari, dan Tari Campernik.

“Harapannya kegiatan rutin ini menjadi edukasi wisata berbasis budaya sekaligus memperkenalkan Alun-Alun Kota Cimahi sebagai salah satu ruang publik dan pusat aktivitas masyarakat,” ungkap Teh Tari.

Wali Kota Dorong Budaya Jadi Jati Diri Cimahi

Wali Kota Cimahi Ngatiyana dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi kepada DKKC, para seniman, koreografer, pelatih, orang tua, komunitas seni, serta seluruh penari yang terlibat.

Menurut Ngatiyana, keberadaan karya tari khas Cimahi harus terus dikembangkan karena budaya merupakan bagian dari jati diri masyarakat.

Ia secara khusus mendorong DKKC dan para tokoh budaya untuk terus mengembangkan karya seni lokal, termasuk menyiapkan Hymne Kota Cimahi dan Mars Kota Cimahi sebagai identitas musikal daerah.

“Saya minta DKKC menyiapkan lagu Hymne Kota Cimahi dan Mars Kota Cimahi. Sampai saat ini saya melihat Cimahi belum memiliki mars atau hymne yang menjadi ciri khas tersendiri,” kata Ngatiyana.

Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan harus mendapatkan perhatian serius, termasuk dari sisi dukungan anggaran. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan penguatan budaya.

Ngatiyana menyebut Alun-Alun Kota Cimahi merupakan ruang publik milik masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif, termasuk kegiatan seni dan budaya, sepanjang kebersihan, keamanan, dan ketertibannya tetap dijaga.

“Alun-Alun Kota Cimahi adalah milik rakyat Kota Cimahi. Silakan digunakan untuk kepentingan masyarakat, selama kebersihan dan keamanannya dijaga dengan baik,” ujarnya.

Generasi Muda Diminta Berjuang Melalui Karya

Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana juga mengajak generasi muda untuk meneruskan perjuangan para pahlawan melalui karya dan prestasi.

Ia menilai generasi muda harus memiliki mental kuat, jati diri, etika, sopan santun, serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

“Kalau dulu para pahlawan berjuang dengan senjata, sekarang kita berjuang melalui karya dan prestasi. Seni dan budaya yang ditampilkan hari ini merupakan karya nyata anak-anak Kota Cimahi,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan seperti pentas kolosal tari dapat menjadi sarana pendidikan budaya sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas.

Ngatiyana juga menyampaikan kebanggaannya atas prestasi Kota Cimahi dalam ajang Mojang Jajaka Jawa Barat. Ia menyebut perwakilan putra Cimahi berhasil meraih juara pertama tingkat Jawa Barat dan berhak melanjutkan ke tingkat nasional, sementara perwakilan putri meraih juara harapan pertama.

Soal Kemacetan, Wali Kota Sampaikan Permohonan Maaf

Di hadapan peserta dan masyarakat, Ngatiyana turut menyampaikan permohonan maaf terkait kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan Kota Cimahi pada 19 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, kepadatan lalu lintas tersebut berkaitan dengan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan underpass yang merupakan program Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kemacetan dan meningkatkan konektivitas Kota Cimahi. Ia menyebut nilai pembangunan underpass sekitar Rp150 miliar dan didukung anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Selain itu, terdapat pembangunan yang melibatkan pemerintah pusat dan PT Kereta Api Indonesia serta perbaikan jembatan di sekitar kawasan Pemerintah Kota Cimahi yang kondisinya mulai mengalami penurunan.

Ngatiyana menegaskan seluruh pembangunan tersebut ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bukan kepentingan pribadi.

“Saya menyampaikan permohonan maaf apabila pada tanggal 19 Agustus perjalanan masyarakat terganggu. Kemacetan tersebut menjadi tanggung jawab saya sebagai wali kota, bukan kesalahan petugas di lapangan,” ujarnya.

Ia berharap proses pembangunan dapat berjalan dengan baik, bahkan dipercepat apabila memungkinkan, tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.

Budaya, Identitas, dan Masa Depan Cimahi

Pentas kolosal DKKC akhirnya bukan sekadar pertunjukan tari. Di balik ratusan gerakan penari yang memenuhi Alun-Alun Cimahi, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga identitas daerah di tengah perubahan zaman.

Dari sanggar-sanggar kecil, dukungan orang tua, tangan para pelatih, hingga keberanian anak-anak tampil di ruang publik, seni budaya Cimahi terus menemukan jalannya.

  1. Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dengan semangat gotong royong dan swadaya, para pelaku seni mampu menghadirkan pertunjukan kolosal yang melibatkan lebih dari seribu penari.

Bagi Cimahi, menjaga budaya bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, tetapi juga menyiapkan jati diri generasi masa depan.

“Karya hari ini adalah identitas Cimahi untuk generasi yang akan datang,” (Bd20)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp: