TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan

Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan

Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Scudetto Band grub asal Kota Cimahi menjadi salah satu kelompok musik yang terus menjaga eksistensinya di tengah perkembangan industri musik yang semakin dinamis.

Berawal dari lingkungan masyarakat di wilayah RW 20, perjalanan grup musik ini telah melewati berbagai fase, pergantian personel, hingga tetap bertahan dengan semangat berkarya dan menjaga musik lintas generasi.

Saat ini, kekuatan musikal Scudetto Band diisi oleh empat personel yang memiliki peran masing-masing dalam membangun karakter musik band.
Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan
Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan
Agus — Keyboard dan Vokal
Gimin — Gitar dan Vokal
Emos — Bass dan Vokal
Nandar — Drum

Nama Scudetto sendiri memiliki cerita yang cukup unik. Berdasarkan penuturan personel, nama tersebut muncul ketika salah seorang anggota sedang mengantarkan koran.

Saat itu, terdapat tulisan mengenai “Scudetto”, istilah yang berkaitan dengan gelar juara Liga Italia.
Scudetto Band Bertahan Lewat Karya dan Kebersamaan
“Awalnya kami bingung mencari nama band. Waktu sedang mengantar koran, saya melihat tulisan Scudetto, juara Liga Italia. Dari situ nama Scudetto kemudian dipilih,” ungkap salah seorang personel Scudetto Band, Agus yang sekaligus memerankan Keyboard dan Vokal, saat di wawancarai Kabaran Jabar di Studio Heavenroxx, Jl. Bp. Ampi Kel. Baros. Kec. Cimahi Tengah, pada, pada Rabu (16/9/2026) malam.

Nama tersebut akhirnya melekat dan menjadi identitas grup musik yang perjalanan bermusiknya telah dimulai sejak sekitar 1996.

Dalam perjalanannya, Scudetto mengalami berbagai perubahan komposisi personel. Salah satu fase penting terjadi sekitar 2005 hingga 2006 ketika sejumlah personel bergabung dan membentuk format band yang kemudian terus berkembang.

Perjalanan Scudetto juga tidak terlepas dari pertemuan dengan sejumlah musisi dan pihak yang turut memperkaya pengalaman bermusik mereka. Salah satunya terjadi ketika mereka bertemu dengan seorang musisi dari Jakarta yang kemudian bekerja dan beraktivitas di Bandung. Pertemuan tersebut membuka kesempatan untuk berlatih dan memperluas jaringan bermusik.

Seiring perjalanan waktu, Scudetto Band juga mengalami kehilangan salah seorang personelnya yang telah meninggal dunia. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang grup yang kemudian melanjutkan aktivitas dengan formasi yang tersedia.

Dalam proses kreatif, pengalaman pribadi para personel menjadi salah satu sumber inspirasi dalam menciptakan lagu. Sekitar 2008, Scudetto mulai mencoba membuat karya sendiri. Ide dan pengalaman yang dialami masing-masing personel kemudian dituangkan menjadi materi lagu.

“Kalau soal lagu, banyak yang berasal dari pengalaman pribadi. Apa yang kami alami kemudian menjadi bahan untuk membuat karya,” tutur personel Scudetto.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Scudetto selama bertahun-tahun adalah menyatukan empat kepala dengan karakter dan pemikiran yang berbeda. Perbedaan pendapat menjadi hal yang tidak terhindarkan, terutama dalam proses latihan dan menentukan arah bermusik.

Namun, bagi mereka, perbedaan justru menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan penampilan yang lebih solid.

“Lebih baik kami beradu argumen saat latihan daripada ketika sudah berada di atas panggung. Jadi kalau ada perbedaan, kami selesaikan di latihan,” ujarnya.

Prinsip tersebut menjadi salah satu alasan Scudetto mampu mempertahankan kebersamaan dalam perjalanan yang panjang. Mereka juga tidak terburu-buru mengganti personel ketika terjadi perubahan. Setiap personel baru membutuhkan proses adaptasi agar dapat memahami materi lagu, karakter permainan, serta pola bermusik yang telah dibangun sejak awal.

Dalam penampilannya, Scudetto juga tetap mempertahankan karakter lagu-lagu lawas yang menjadi bagian dari identitas mereka. Meski demikian, mereka terkadang memberikan sentuhan atau tambahan melodi tertentu tanpa menghilangkan karakter asli lagu.

Kehadiran media juga turut membantu Scudetto memperkenalkan karya dan aktivitas mereka kepada masyarakat. Selain tampil dalam berbagai acara, radio menjadi salah satu media yang cukup berperan dalam perjalanan publikasi Scudetto. Wawancara dan pemberitaan media juga menjadi bagian dari cara mereka berkomunikasi dengan pendengar.

Bagi Scudetto, dukungan masyarakat tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk fanbase besar. Apresiasi sederhana dari penonton, terutama generasi yang masih menikmati musik lawas, sudah menjadi dorongan tersendiri bagi mereka untuk terus bermain musik.

Scudetto juga melihat kegiatan bermusik sebagai salah satu bentuk pelestarian karya-karya musik dari generasi sebelumnya. Mereka berharap keberadaan kelompok musik yang membawakan lagu-lagu lawas tetap mendapat ruang di berbagai daerah.

“Kalau ada band yang memainkan lagu-lagu lama, menurut kami itu bagian dari melestarikan. Tidak semua orang menyukai satu jenis lagu, tetapi musik dari generasi sebelumnya tetap perlu dikenalkan dan dimainkan,” katanya.

Ke depan, Scudetto Band berharap perkembangan musik Indonesia semakin maju tanpa meninggalkan keberagaman genre dan karakter musik. Mereka juga berharap musisi muda memiliki ruang yang cukup untuk berkarya serta tetap menghargai perjalanan musik dari generasi sebelumnya.
Bagi Scudetto, perjalanan dari 1996 hingga sekarang bukan sekadar soal bertahan sebagai sebuah band. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kebersamaan, konsistensi latihan, penghargaan terhadap sesama personel, serta kecintaan terhadap musik dapat menjaga sebuah kelompok musik tetap hidup selama puluhan tahun.

"Scudetto Band pun memilih untuk terus berjalan dan berkarya selama masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk tampil di tengah masyarakat," pungkasnya. (Bd20)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar