TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
IKAL-Lemhannas Tegaskan Perkebunan Kunci Ketahanan Nasional Indonesia

IKAL-Lemhannas Tegaskan Perkebunan Kunci Ketahanan Nasional Indonesia

Ketua Umum IKAL-Lemhannas: Hilirisasi Sektor Perkebunan Perkuat Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL-Lemhannas), Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., IPU., menegaskan bahwa sektor perkebunan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan nasional sekaligus mendorong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Penegasan tersebut disampaikan Prof. Purnomo dalam kegiatan International Conference & Expo on Palm Oil and Others (ICEXPO) 2026 yang berlangsung di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dalam forum yang mengangkat tema “Collaboration on Sustainability and Prosperity of Palm Oil, Cocoa and Coconut for Smallholders” tersebut, Prof. Purnomo menyoroti potensi tiga komoditas perkebunan unggulan Indonesia, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Ketiganya dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, serta kemandirian energi nasional.
IKAL-Lemhannas Tegaskan Perkebunan Kunci Ketahanan Nasional Indonesia
IKAL-Lemhannas Tegaskan Perkebunan Kunci Ketahanan Nasional Indonesia
Menurutnya, industri kelapa sawit telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berkaitan dengan sawit dan implementasi program biodiesel B30 yang disebut mencapai US$21,738 miliar.

Selain memberikan manfaat ekonomi, kebijakan biodiesel juga menjadi instrumen strategis pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil serta memperkuat kemandirian energi nasional.

Prof. Purnomo menekankan bahwa pengembangan sektor perkebunan ke depan harus berorientasi pada hilirisasi. Langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, serta memperluas manfaat ekonomi dari komoditas unggulan Indonesia.

Kelapa sawit, misalnya, memiliki peluang pengembangan berbagai produk turunan, mulai dari pangan, oleokimia, kosmetik, hingga biofuel. Sementara itu, komoditas kakao dan kelapa juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.

Dalam perspektif ketahanan nasional, pembangunan sektor perkebunan harus mampu mengintegrasikan prinsip sustainability (keberlanjutan) dan prosperity (kemakmuran). Pengelolaan sumber daya alam tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan keseimbangan lingkungan serta pemerataan manfaat bagi masyarakat.
IKAL-Lemhannas Tegaskan Perkebunan Kunci Ketahanan Nasional Indonesia
Lebih lanjut, Prof. Purnomo menghubungkan penguatan sektor perkebunan dengan implementasi Asta Cita, khususnya dalam mewujudkan kemandirian pangan, air dan energi, penciptaan lapangan kerja, pembangunan sumber daya manusia, percepatan hilirisasi, serta penguatan ekonomi dari desa.

Dengan demikian, sektor perkebunan tidak semata-mata dipandang sebagai sektor ekonomi, melainkan juga sebagai salah satu instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan industri, perguruan tinggi, masyarakat sipil, petani, pelaku UMKM, hingga mitra internasional.

Sinergi antarpemangku kepentingan tersebut menjadi faktor penting dalam memperkuat inovasi, penguasaan teknologi, akses pembiayaan, kelembagaan petani, serta perluasan akses pasar bagi produk perkebunan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum IKAL-Lemhannas juga menegaskan tiga prinsip utama yang harus menjadi landasan pembangunan sektor perkebunan, yaitu Growth, Equity, and Human Resource Development (HRD).

Prinsip Growth menitikberatkan pada peningkatan produktivitas, inovasi, dan daya saing industri. Sementara Equity mengedepankan pemerataan manfaat pembangunan, terutama bagi pekebun rakyat agar dapat memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.

Adapun Human Resource Development menekankan pentingnya peningkatan kualitas, kapasitas, dan kompetensi sumber daya manusia agar mampu menghadapi perkembangan teknologi serta transformasi industri perkebunan.

Ketiga prinsip tersebut menjadi fondasi penting untuk membangun sektor perkebunan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Upaya tersebut sekaligus sejalan dengan empat sasaran strategis Indonesia Emas 2045, yakni penguatan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK), pemerataan pembangunan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta penguatan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Melalui penyelenggaraan ICEXPO 2026, Prof. Purnomo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam mentransformasikan potensi perkebunan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi nasional yang mampu bersaing di tingkat global, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Bagi IKAL-Lemhannas, penguatan sektor perkebunan merupakan bagian integral dari strategi besar pembangunan nasional dalam mewujudkan kemandirian ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkokoh ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045. (-red/Jum)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar