Kabaran Jabar, - Merebaknya kasus Super Flu atau Virus Influenza A Subclade K di sejumlah wilayah Indonesia memicu kewaspadaan baru di Jawa Barat.
Hingga saat ini, tercatat 10 kasus terkonfirmasi di provinsi tersebut, dengan satu pasien dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit penyerta.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman penyakit menular yang dinilai memiliki laju penyebaran cepat.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Cimahi mengambil langkah antisipatif meski belum ditemukan kasus Super Flu di wilayahnya.
Upaya pencegahan dilakukan sejak dini untuk memastikan kesiapsiagaan sistem layanan kesehatan jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati, menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan warga Cimahi yang terinfeksi virus tersebut.
Namun, pihaknya tidak ingin lengah. Seluruh rumah sakit dan puskesmas telah disiagakan, termasuk penerapan sistem triase guna mendeteksi secara dini pasien dengan gejala yang mengarah pada Super Flu.
“Fasilitas layanan kesehatan sudah kami siapkan. Proses skrining awal diperketat agar jika ada indikasi, bisa segera ditangani,” ujar Mulyati, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, Super Flu merupakan varian baru influenza yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi dibandingkan flu musiman. Dalam kondisi tertentu, virus ini juga berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat, terutama pada kelompok rentan.
“Ini bukan flu biasa. Penularannya sangat agresif. Karena itu, masyarakat tidak boleh lengah dan harus meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
Dinas Kesehatan mengimbau warga untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu berat, serta mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah guna mencegah kepanikan dan penyebaran yang lebih luas. **
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar