TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Amerika-Iran: Dunia Tunggu Keputusannya

Amerika-Iran: Dunia Tunggu Keputusannya

Amerika-Iran: Dunia Tunggu Keputusannya
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Ketua Komisi I DPR periode 2010–2016, Mahfuz Sidik, menilai dunia tengah berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Sorotan global kini tertuju pada kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran sebuah skenario yang dinilai berpotensi memantik Perang Dunia III.

Dalam forum Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertema “Serangan ke Iran: Benarkah Ambang Pintu Perang Dunia III”, Mahfuz menegaskan bahwa isu ini bukan sekadar spekulasi, melainkan percakapan serius di tingkat global. Publik internasional, menurutnya, menanti kepastian: apakah eskalasi benar-benar akan terjadi atau hanya menjadi tekanan politik semata.

Mahfuz mengungkapkan, Iran disebut dalam dokumen yang pernah dibocorkan oleh mantan Panglima NATO, Wesley Clark. Dalam dokumen tersebut, terdapat tujuh negara yang ditargetkan untuk dilumpuhkan secara politik dan militer pasca peristiwa 11 September 2001.

Negara-negara itu adalah Irak, Suriah, Libanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.
Dari tujuh negara tersebut, Mahfuz menilai hanya Iran yang hingga kini belum sepenuhnya dilumpuhkan. Negara-negara lain, menurutnya, telah mengalami instabilitas berkepanjangan, bahkan nyaris porak-poranda.

Ia juga menyinggung kebijakan Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang disebut melanjutkan pendekatan keras terhadap Iran. Trump memposisikan Iran sebagai pendukung terorisme global dan mengusung kembali narasi global war on terrorism sebagai legitimasi kebijakan luar negerinya.

Tak hanya itu, Mahfuz menyoroti adanya dokumen strategis yang disusun para penasihat senior di Washington untuk Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Dokumen tersebut, katanya, bertujuan mereposisi peta kekuatan Timur Tengah dengan menempatkan Israel sebagai aktor dominan, sementara Iran dipandang sebagai “batu terakhir” yang masih berdiri kokoh menantang dominasi tersebut.

Menurut Mahfuz, Iran bukanlah negara yang mudah ditundukkan. Selain memiliki program nuklir dan rudal balistik, Iran juga memiliki kekuatan Garda Revolusi yang solid serta kedekatan strategis dengan Rusia dan China.

Posisi geografis Iran yang menguasai Selat Hormuz menjadikannya pemain kunci dalam jalur distribusi energi global. Jika jalur itu terganggu, dampaknya akan dirasakan dunia.

Eskalasi konflik juga melibatkan aktor-aktor non-negara seperti kelompok Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Gaza yang disebut berada dalam poros perlawanan terhadap Israel dan sekutunya. Ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran pun dinilai semakin hari kian mengeras.

Mahfuz mengingatkan, jika serangan benar-benar terjadi, konsekuensinya bisa melampaui batas regional dan menjelma menjadi konflik global. Namun ia juga menekankan pentingnya membaca situasi secara jernih dan strategis.

Bagi Indonesia, sikap yang bijak adalah menghindari jebakan politik aliansi dan memperhitungkan risiko secara matang.

Ketergantungan pada impor minyak menjadi salah satu faktor yang harus dimitigasi sejak dini. Dalam dunia yang saling terhubung, satu percikan di Timur Tengah bisa menjadi gelombang besar yang menghantam ekonomi dan stabilitas banyak negara, termasuk Indonesia.

Di tengah pusaran geopolitik yang terus bergerak, dunia kini benar-benar menahan napas menanti apakah ini sekadar manuver tekanan, atau awal dari babak konflik yang lebih luas. **
Amerika-Iran: Dunia Tunggu Keputusannya
Ketua Komisi I DPR periode 2010–2016, Mahfuz Sidik.

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar