TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi

Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi

Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Dalam perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terdapat tahapan-tahapan yang menggambarkan sejauh mana kedekatan batin seseorang dengan Sang Pencipta. Dalam khazanah tasawuf, perjalanan ini sering dikenal melalui dua istilah penting: salik dan majdzub (sering juga disebut “majzub”). Keduanya menggambarkan dua jalan berbeda, namun tetap bermuara pada satu tujuan—yakni kedekatan sejati kepada Allah.

Seorang salik adalah mereka yang menempuh jalan dengan kesadaran, usaha, dan kesungguhan. Ia berjalan perlahan namun pasti, meniti tangga demi tangga spiritual dengan penuh disiplin. Dzikir, ibadah, mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu), serta bimbingan seorang mursyid menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Seorang salik ibarat musafir yang sadar akan tujuan, lalu mempersiapkan bekal dan menempuh perjalanan panjang dengan kesabaran.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan kedekatan-Nya kepada hamba yang berusaha mendekat:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat..." (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap langkah kecil seorang salik tidak pernah sia-sia. Bahkan dalam hadis qudsi disebutkan, ketika hamba mendekat sejengkal, Allah mendekat sehasta. Ini menunjukkan bahwa usaha seorang salik selalu disambut dengan kasih sayang yang berlipat dari Allah.

Berbeda dengan itu, majdzub adalah mereka yang “ditarik” langsung oleh Allah ke dalam kedekatan-Nya. Jika salik berjalan menuju Allah, maka majdzub seakan “dijemput” oleh-Nya. Mereka memperoleh limpahan cahaya Ilahi tanpa melalui proses panjang seperti yang ditempuh salik. Hatinya terjaga, jiwanya dipenuhi ma’rifat, dan kehidupannya diliputi kesadaran spiritual yang mendalam.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

"Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an), dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (QS. Al-A’raf: 196)

Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah sendiri yang menjaga dan membimbing hamba-hamba pilihan-Nya. Dalam hadis juga disebutkan adanya hamba yang diberi ilham oleh Allah, sebagaimana keistimewaan yang dimiliki oleh Umar bin Khattab, yang sering mendapat kebenaran dalam ilhamnya.

Perbedaan antara salik dan majdzub terletak pada proses dan pengalaman batin. Salik menempuh jalan dengan usaha yang panjang, penuh latihan, dan disiplin spiritual. Ia membersihkan hati sedikit demi sedikit hingga mencapai cahaya. Sementara majdzub mengalami loncatan spiritual—ia langsung dibukakan tabir oleh Allah, tanpa melalui tahapan yang panjang.

Namun, keduanya bukanlah jalan yang saling bertentangan. Justru dalam banyak pandangan ulama tasawuf, keduanya bisa saling melengkapi. Ada yang memulai sebagai salik lalu mencapai keadaan seperti majdzub. Ada pula yang mengalami “tarikan” Ilahi terlebih dahulu, lalu menapaki jalan salik untuk menstabilkan keadaannya.

Pada akhirnya, baik salik maupun majdzub memiliki tujuan yang sama: mengenal Allah (ma’rifatullah) dan mendekat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Perbedaan hanyalah pada cara dan proses yang ditempuh.

Perjalanan spiritual bukanlah tentang siapa yang lebih cepat sampai, melainkan tentang keikhlasan dalam melangkah. Ada yang berjalan pelan namun istiqamah, ada pula yang seolah melesat karena anugerah. Keduanya tetap berada dalam lingkaran kasih sayang Allah.

Maka, bagi setiap hamba, yang terpenting bukanlah memilih menjadi salik atau berharap menjadi majdzub, melainkan terus melangkah, membersihkan hati, dan membuka diri terhadap bimbingan-Nya. Sebab pada akhirnya, siapa pun yang bersungguh-sungguh mencari Allah, akan menemukan bahwa Allah telah lebih dulu mendekatinya. (Bd20)

Wallahu a’lam. Kamis, (26/3/2026)
Jalan Sunyi Menuju Cahaya Ilahi
Oleh: Ustad Hendra Yana Heriyanto

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar