Kabaran Jabar, - Perang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa konsekuensi politik di dalam negeri.
Donald Trump menghadapi situasi yang tidak sederhana. Data historis di Amerika menunjukkan satu pola: ketika konflik luar negeri memanjang dan korban meningkat, dukungan publik cepat tergerus. Perang Irak dan Afghanistan menjadi contoh bagaimana biaya militer triliunan dolar akhirnya berubah menjadi beban politik.
Dalam konteks konflik dengan Iran, risiko itu nyata. Kawasan Teluk bukan hanya arena militer, tetapi simpul energi global. Gangguan di Bahrain, Kuwait, atau Uni Emirat Arab langsung memengaruhi harga minyak dunia. Pasar bereaksi lebih cepat daripada pidato presiden.
Di sisi lain, Iran memainkan strategi asimetris. Mereka tidak perlu mengalahkan Amerika dalam perang terbuka. Cukup menjaga intensitas serangan agar konflik tetap mahal dan panjang. Dalam teori militer modern, ini disebut strategi “cost imposition”: memaksa lawan membayar lebih lama daripada yang sanggup ia tanggung secara politik.
Trump pernah mengakui bahwa perang besar akan menimbulkan korban di pihak Amerika. Itu pengakuan realistis. Namun realitas politik Amerika keras. Keluarga tentara, oposisi di Kongres, dan media nasional akan menghitung setiap peti jenazah yang kembali.
Israel pun berada dalam posisi yang sama. Ketika serangan awal tidak sepenuhnya melumpuhkan kemampuan rudal Iran, ekspektasi kemenangan cepat berubah menjadi ketidakpastian.
Perang yang dirancang singkat bisa berubah menjadi ujian daya tahan.
Dan dalam demokrasi, daya tahan militer sering kali kalah cepat dari daya tahan opini publik.
Oleh: Syafaq Ahmar
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar