Kabaran Jabar, - Presiden Vladimir Putin memerintahkan Kementerian Situasi Darurat Rusia untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada Iran beberapa hari yang lalu.
Bantuan tersebut berupa obat-obatan dengan total berat mencapai 13 ton sebagai bentuk dukungan kemanusiaan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Kementerian Situasi Darurat Rusia menyatakan bahwa bantuan medis tersebut terlebih dahulu dikirim melalui Azerbaijan sebelum diserahkan kepada otoritas Iran.
Dalam keterangan resminya, kementerian menjelaskan bahwa pengiriman dilakukan oleh divisi penerbangan mereka untuk memastikan bantuan dapat segera diterima pihak terkait di Iran.
“Divisi penerbangan kementerian mengatur pengiriman obat-obatan ke Azerbaijan untuk diteruskan kepada perwakilan resmi pemerintah Iran,” demikian pernyataan kementerian yang dikutip dari Anadolu Agency.
Langkah ini muncul setelah sebelumnya Vladimir Putin melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin (9/3/2026).
Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin membahas berbagai opsi untuk meredakan konflik yang berkembang di sekitar Iran.
Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyebut bahwa Putin menyampaikan sejumlah gagasan untuk mengakhiri konflik melalui jalur politik dan diplomasi.
Ia juga mendorong kelanjutan komunikasi dengan para pemimpin negara Teluk, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta sejumlah pemimpin dunia lainnya.
“Pertukaran ide yang sangat substansial dan tanpa diragukan bermanfaat telah terjadi,” ujar Ushakov seperti dikutip dari Reuters.
Sementara itu, Trump juga menyampaikan pandangannya terkait perkembangan operasi militer yang dilakukan AS bersama Israel.
Ketegangan kawasan meningkat tajam sejak 28 Februari lalu ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Amir Hatami, serta Komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Mohammed Pakpour.
Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Situasi tersebut semakin mempertegang dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar