TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan

Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan

Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Band rock/metal asal Bandung, DAJJAL, menjadi bintang tamu dalam program LITE ROCK SOCIETY K-Lite 107.1 FM, pukul 19.00–22.00 WIB di Bandung pada Minggu pada (16/8/2026).

Dalam sesi wawancara eksklusif bersama Kabaran Jabar, DAJJAL membuka berbagai cerita mengenai filosofi di balik nama band, perkembangan karakter musik, tantangan mempertahankan eksistensi di tengah era digital, hingga rencana besar merilis album ketiga pada Desember 2026.

DAJJAL diperkuat oleh Didi Kurniadi atau Barock sebagai vokalis, Lahir Sarip sebagai drummer, serta Asep Ginanjar Novrizal dan Dendy sebagai gitaris.

Nama DAJJAL, Simbol Sisi Gelap Manusia

Nama DAJJAL selama ini dikenal kuat dan tidak jarang menimbulkan kontroversi. Namun bagi para personelnya, nama tersebut bukanlah ajakan menuju keburukan. Sebaliknya, DAJJAL menjadi simbol refleksi terhadap sisi gelap manusia.

“Nama Dajjal itu semacam intervensi. Kami ingin menggambarkan sisi gelap manusia. Keburukan itu sosoknya seperti apa, mungkin seperti ini dalam bayangan. Kami menguatkan sisi gelap itu, sama seperti band-band lain punya konsepnya masing-masing,” ungkap vokalis DAJJAL, Didi Kurniadi atau Barock.
Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan
Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan
Menurutnya, nama tersebut merupakan bagian dari identitas dan konsep artistik yang ingin dibangun DAJJAL melalui musik.

Tetap Berat, tetapi Terus Berevolusi

Seiring perjalanan bermusik, DAJJAL juga terus melakukan eksplorasi terhadap karakter suara. Barock mengatakan musik mereka saat ini tidak lagi mudah dikotakkan seperti karya-karya sebelumnya.

“Yang membedakan dari musiknya, kalau dulu kan bisa terbaca. Sekarang lebih modern. Kita juga bisa mengobati. Intinya kita tetap berat, tapi ada pembaruan,” jelas Barock.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya DAJJAL mempertahankan identitas musik rock/metal sekaligus mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter.

Bertahan di Tengah Era Digital

Sebagai band yang mengusung musik keras, DAJJAL menyadari bahwa mempertahankan eksistensi bukan perkara mudah. Perkembangan musik digital menghadirkan persaingan sekaligus tantangan baru bagi para musisi.

“Tantangannya sekarang anak-anak sekarang musiknya bagus-bagus. Tapi alhamdulillah DAJJAL masih bisa bertahan,” ujar Barock.

Ia menyebut dukungan para penggemar dan kawan-kawan menjadi energi penting bagi perjalanan DAJJAL.

“Support paling berarti itu dari kawan-kawan yang semangat mendukung, masih menghidupkan kabar, bangkit lagi. Kami bersyukur masih ada yang support,” tambahnya.

Fokus Album Ketiga, Target Rilis Desember 2026

Sementara itu, gitaris Dendy mengungkapkan bahwa DAJJAL kini tengah memusatkan perhatian pada proses produksi album ketiga.

Album tersebut ditargetkan meluncur pada Desember 2026, dengan materi yang terdiri dari sembilan lagu ditambah satu intro.

“Yang paling cleaning terdekat, langkah kita mau rilis album ketiga Desember 2026. Isinya ada 9 lagu sama 1 intro, total 10 playlist. Bulan September ini kita juga mau launching single kedua dan ketiga. Sampai Desember nanti baru full album,” kata Dendy.Q

Demi mengejar target tersebut, DAJJAL untuk sementara memilih mengurangi aktivitas panggung. Sejumlah tawaran tampil dari Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur disebut telah berdatangan.

“Kita belum fokus ke main dulu karena ngejar materi album. Takutnya kalau dipaksakan manggung, album jadi telat sampai 2027. Momennya lagi hangat, pengennya Desember sudah rilis,” ungkap Dendy.

Berharap Album Ketiga Menjadi Energi Baru

Dendy berharap seluruh proses produksi album ketiga dapat berjalan lancar hingga waktu peluncuran.

Dalam jangka panjang, DAJJAL ingin karya terbaru mereka dapat diterima masyarakat sekaligus memberikan semangat bagi band-band underground lainnya untuk tetap berkarya.

“Harapan kami, setelah album ini keluar bisa diterima. Mudah-mudahan inspirasinya selalu ada untuk karya berikutnya,” pungkas Dendy.

Rock/Metal dan Ekosistem Musik Bandung Raya

Dalam kesempatan tersebut, Dendy juga menyoroti posisi musik rock dan metal yang dinilainya masih memiliki ruang penting dalam perkembangan musik Indonesia.

Menurutnya, musik rock/metal bukan sekadar musik keras, tetapi juga dapat menjadi ruang diskusi, menyampaikan gagasan, serta membawa visi dan misi melalui karya.

DAJJAL berharap pemerintah, khususnya di wilayah Bandung Raya, dapat semakin aktif dalam menghidupkan kembali ekosistem musik dengan memberikan ruang yang lebih luas bagi para musisi dan komunitas untuk berkarya.

Bagi DAJJAL, keberlangsungan musik tidak hanya bergantung pada musisinya, tetapi juga membutuhkan dukungan ekosistem, penonton, komunitas, media, penyelenggara acara, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan musik.

Dengan target album ketiga pada Desember 2026, DAJJAL kini memilih berkonsentrasi di studio. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus digitalisasi musik, band asal Bandung tersebut berusaha membuktikan bahwa musik rock/metal tetap dapat berkembang, berevolusi, dan memiliki tempat di hati pendengarnya.
Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan
Filosofi Nama Band Dajjal Bukan Ajak Kejahatan

Tentang DAJJAL:

DAJJAL merupakan band rock/metal asal Bandung yang saat ini beranggotakan Didi Kurniadi (Barock) sebagai vokalis, Lahir Sarip sebagai drummer, Asep Ginanjar Novrizal dan Dendy sebagai gitaris. Saat ini, DAJJAL tengah fokus pada proses kreatif dan produksi album ketiganya yang ditargetkan dirilis pada Desember 2026.

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar