Kabaran Jabar, - Band rock asal Kota Cimahi, Kalimusada, kembali menunjukkan eksistensinya di kancah musik tanah air.
Setelah melewati perjalanan panjang, pasang surut, hingga masa vakum, kelompok musik yang terbentuk sejak 1989 dan mulai aktif bermusik bersama sejak 1994 tersebut kini kembali hadir dengan energi baru.
Kebangkitan Kalimusada ditandai dengan hadirnya karya terbaru berjudul “Damai”, sebuah lagu yang membawa benang merah tema yang sejak awal menjadi bagian dari perjalanan musikal mereka: kemanusiaan, harapan, dan kedamaian.
Vokalis Kalimusada, Danang Arifin alias Cobra, mengatakan respons pendengar terhadap kehadiran mereka kembali cukup positif. Setiap kali tampil, Kalimusada mengaku mendapatkan sambutan yang baik dari penonton.
“Alhamdulillah, untuk respons pendengar positif. Setiap kami tampil, sambutannya bagus. Untuk single baru ‘Damai’ ini memang belum banyak, baru satu setengah lagu. Kami belum naik ke platform resmi seperti Spotify,” jelas Danang Arifin saat ditemui Kabaran Jabar di Studio Heavenroxx, Jl. Bp. Ampi Kel. Baros. Kec. Cimahi Tengah, pada Kamis (10/9/2026) malam.
Menurut Danang, Kalimusada hadir dengan membawa semangat musikalitas yang berakar pada karakter musik rock, namun tetap mempertahankan warna vokal yang khas Indonesia.
“Kalimusada hadir membawa semangat musikalitas yang berakar pada budaya dan karakter vokal khas Indonesia,” ucap Danang.
Bukan Sekadar Kembali, Kalimusada Membawa Identitas
Perjalanan Kalimusada tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang para personelnya. Band ini lahir dari lingkungan komunitas musik dan pergaulan musisi pada era 1990-an. Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah ikatan musikal yang bertahan hingga saat ini.
Surya, gitaris Kalimusada, menjelaskan bahwa nama Kalimusada sendiri memiliki akar kuat dalam budaya pewayangan.
Nama tersebut merujuk pada Kalimasada, pusaka milik Yudhistira dalam kisah pewayangan Pandawa Lima. Bagi para personel, nama tersebut bukan sekadar identitas, tetapi mengandung filosofi yang ingin mereka bawa dalam bermusik.
“Kalimusada kami ambil dari bahasa pewayangan. Ini punya makna kekuatan, perlindungan, dan harapan. Kami ingin musik kami juga membawa pesan yang sama: kuat, menyentuh, dan memberi ‘jalan keluar’ bagi pendengar,” ujar Surya.
Dari filosofi tersebut, Kalimusada berusaha menjadikan musik bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan.
Rock dengan Karakter Vokal Indonesia
Secara musikal, Kalimusada mengusung genre rock dengan sentuhan karakter vokal khas Indonesia. Mereka mengakui memiliki referensi dari berbagai band rock, namun tidak ingin sekadar mengikuti arus musik yang sudah ada.
Bagi Kalimusada, karakter vokal menjadi salah satu identitas utama yang membedakan mereka.
“Kalau untuk band lain sekarang banyak versi. Kami ambil referensi dari rock, tapi karakter vokal kami yang masuk di situ. Itu yang membedakan Kalimusada dengan band lain di scene musik saat ini,” ungkap Surya.
Aransemen pun tidak dibiarkan berjalan begitu saja. Setiap lagu mengalami proses pengolahan kembali agar menghasilkan warna yang sesuai dengan karakter Kalimusada.
Kehilangan Sang Drummer, Hadir dengan Energi Baru
Perjalanan panjang Kalimusada juga tidak terlepas dari kehilangan. Dalam dua tahun terakhir, band ini harus menghadapi kepergian drummer lama mereka, Janny Dee (Almarhum), yang telah berpulang.
Kini posisi drummer diisi oleh Drunk, yang membawa energi baru dalam perjalanan Kalimusada.
Bowo, pemain bass Kalimusada, mengatakan pergantian tersebut menjadi salah satu momentum bagi band untuk kembali menata langkah dan melanjutkan perjalanan bermusik.
“Kami sempat kehilangan drummer kami yang lama, Janny Dee (almarhum), dua tahun lalu. Beliau sudah berpulang. Sekarang digantikan oleh drummer terbaru, yaitu Drunk. Ini jadi semangat baru bagi kami untuk terus berkarya,” jelas Bowo.
Menurut Bowo, meski formasi mengalami perubahan, semangat bermusik Kalimusada tidak ikut berhenti.
Justru pengalaman panjang tersebut menjadi modal untuk memperkuat karakter musik mereka.
“Apapun lagunya, pasti berbeda. Kami pasti rombak aransemennya di rumah. Tema yang paling sering kami angkat dari dulu tidak berubah: tentang kemanusiaan, harapan, dan kedamaian,” ujar Bowo.
Dari “Warung Band” hingga Kembali ke Panggung
Drunk, drummer terbaru Kalimusada, menyebut bahwa sebagian perjalanan awal para personel tidak bisa dipisahkan dari komunitas musik era 1990-an.
Pertemuan para personel berawal dari komunitas musik dan ruang-ruang pergaulan musisi yang kala itu dikenal dengan istilah “warung band”.
Dari ruang sederhana tersebut, para musisi bertemu, bertukar gagasan, bermain bersama, hingga akhirnya membangun sebuah visi bermusik.
Kini, setelah puluhan tahun perjalanan, Kalimusada kembali membawa semangat tersebut dalam formasi baru.
“Damai”, Karya Baru yang Masih Dalam Proses
Saat ini Kalimusada tengah mempersiapkan karya terbaru mereka. Single “Damai” menjadi salah satu materi yang sedang digarap secara mandiri.
Proses produksi dilakukan dengan kekuatan internal para personel. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah menyatukan jadwal, mengingat masing-masing personel memiliki kesibukan di luar aktivitas bermusik.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginan mereka untuk terus menghasilkan karya.
Danang menegaskan bahwa target Kalimusada ke depan sebenarnya sederhana: tetap berkarya selama masih memiliki kesempatan.
“Target kami sederhana: selama masih bisa, kita berkreasi. Kami ingin Kalimusada tetap ada dan musik kami bisa didengar lebih banyak orang,” pungkas Danang.
Untuk sementara, karya “Damai” masih dalam tahap pengembangan dan belum dirilis melalui platform musik digital resmi seperti Spotify. Kalimusada juga akan terus memberikan informasi mengenai perkembangan single, jadwal pertunjukan, serta rilisan berikutnya melalui kanal media sosial resmi mereka.
Formasi Kalimusada
Saat ini Kalimusada diperkuat oleh:
- Danang Arifin (Cobra) — Vocal
- Surya — Guitar
- Bowo — Bass
- Drunk — Drums
- Keyboard —
Dengan pengalaman panjang sejak era 1990-an, Kalimusada kini memasuki babak baru. Bukan untuk sekadar mengulang masa lalu, tetapi untuk membawa pengalaman tersebut menjadi energi bagi karya-karya berikutnya.
Studio Heavenroxx: Ruang Kreatif di Balik Proses Berkarya
Pertemuan Kabaran Jabar dengan Kalimusada berlangsung di Studio Heavenroxx, ruang kreatif yang lahir dari gagasan dan perjalanan artistik Iwan Heavenroxx.
Bagi Heavenroxx, studio bukan sekadar tempat untuk menghasilkan karya. Ia menjadi ruang untuk mengeksplorasi gagasan, membangun identitas visual, serta menerjemahkan pengalaman menjadi bentuk-bentuk kreatif.
Iwan Heavenroxx memandang proses berkarya bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang terlihat indah, melainkan menciptakan sesuatu yang memiliki karakter, atmosfer, dan makna.
Setiap karya menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam mencari bentuk, mempertanyakan batas, sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Heavenroxx berdiri di antara ekspresi personal dan kebebasan kreatif sebuah ruang yang tidak terpaku pada satu bentuk, medium, maupun definisi.
Di tempat inilah gagasan dapat berkembang secara bebas, eksperimental, dan terkadang tidak terduga.
Bagi Studio Heavenroxx, sebuah karya tidak selalu harus menjelaskan dirinya sendiri.
Terkadang, sebuah karya cukup untuk dirasakan, dipertanyakan, dan meninggalkan kesan. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:





0Komentar