Kabaran Jabar, - Menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan Oktober 2026, isu Palestina kembali menjadi bagian penting dalam persaingan politik, terutama di antara kelompok sayap kanan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya mempertahankan koalisi politiknya, sementara Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich berlomba menampilkan agenda yang lebih keras terhadap Palestina. Ben-Gvir mendorong gagasan pengosongan Gaza dengan istilah “migrasi sukarela”, sedangkan Smotrich fokus pada perluasan permukiman dan penguatan kontrol Israel di Tepi Barat.
Sejumlah analis menilai isu tersebut tidak lagi sebatas retorika politik, tetapi mulai diarahkan menjadi program dan agenda pemerintahan. Rencana terkait Gaza bahkan disebut mencakup mekanisme, target, dan jangka waktu pelaksanaan.
Di Tepi Barat, kebijakan perluasan permukiman dan penguasaan tanah juga menjadi bagian dari agenda kelompok kanan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap perubahan demografis dan geografis wilayah Palestina.
Di tengah persoalan domestik yang menjadi perhatian sebagian pemilih Israel, isu Palestina justru semakin digunakan sebagai arena kompetisi politik sayap kanan. Persaingan tersebut berpotensi menentukan arah kebijakan Israel terhadap Gaza dan Tepi Barat setelah pemilu 2026. (PIP)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:



0Komentar