Kabaran Jabar, - Kemenangan Tim Nasional Indonesia atas Thailand mendapat sambutan luas dari masyarakat. Namun, di balik hasil tersebut, muncul pula pandangan kritis mengenai arah pembinaan sepak bola nasional, khususnya terkait penggunaan pemain naturalisasi dan pengembangan pemain lokal.
Salah satu suara tersebut datang dari Deddy Supriadi, perwakilan Ormas Commando Baros Ranger. Ia menilai kemenangan Timnas tidak semestinya hanya dilihat dari hasil akhir pertandingan, tetapi juga dari proses panjang dalam membangun sepak bola Indonesia.
Menurut Deddy, kemenangan di papan skor memang patut diapresiasi. Namun, kebanggaan terhadap Timnas, menurutnya, juga berkaitan dengan identitas, pembinaan pemain, serta keberlanjutan kompetisi sepak bola nasional.
“Ya, Timnas menang lawan Thailand. Skor akhir memihak kita. Papan skor menyala, media sosial riuh. Tapi jujur saja, sebagai rakyat, kemenangan ini terasa hambar. Menang instan, tapi miskin rasa bangga,” ujar Deddy.
Ia kemudian menyoroti momen ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pertandingan. Menurutnya, pemain yang mengenakan jersey Merah Putih idealnya juga menunjukkan penghormatan terhadap simbol-simbol kebangsaan.
“Bagaimana kita mau merinding, kalau yang membela Merah Putih saja tidak hapal lagu kebangsaannya sendiri?” katanya.
Deddy juga mengungkapkan kerinduannya melihat lebih banyak pemain yang lahir dan berkembang dari kompetisi sepak bola lokal.
Ia membayangkan kembali era ketika nama-nama seperti Asep, Bambang, Dadang, hingga Sucipto menjadi bagian dari cerita sepak bola nasional.
“Kami kangen mendengar nama-nama asli Indonesia disebut di starting eleven. Nama-nama yang lahir dari rahim kampung, dari sawah, dari gang sempit di Cimahi, Bandung, Medan, Papua. Nama yang mewakili wajah kita,” ungkapnya.
Dalam pernyataannya, Deddy tidak menolak keberadaan pemain naturalisasi. Namun, ia meminta kebijakan tersebut tidak membuat pembinaan pemain lokal kehilangan ruang.
“Naturalisasi boleh, tapi jangan mendominasi. Jangan sampai 70–80 persen skuad adalah produk impor instan. Ini Tim Nasional Indonesia atau tim seleksi paspor?” ujarnya.
Ia pun meminta PSSI tidak menjadikan naturalisasi sebagai satu-satunya jalan untuk meningkatkan prestasi Timnas.
Menurut Deddy, pembenahan kompetisi dan sistem pembinaan pemain usia dini harus menjadi perhatian utama.
“Stop jalan pintas. Tugas PSSI bukan cuma mencari pemain keturunan di Belanda. Tugasnya adalah memperbaiki sistem,” tegasnya.
Deddy menyampaikan sejumlah catatan yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam pembangunan sepak bola Indonesia.
Pertama, ia meminta kualitas kompetisi sepak bola nasional terus diperbaiki, mulai dari profesionalisme pengelolaan klub, kepastian jadwal, kesejahteraan pemain, kualitas perangkat pertandingan hingga upaya pencegahan pengaturan skor.
“Dari kompetisi yang sehat dan berjenjang, diharapkan lahir pemain-pemain berkualitas untuk memperkuat Timnas,” katanya.
Kedua, ia meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama pemerintah memiliki perhatian lebih besar terhadap pembinaan usia dini.
Menurutnya, diperlukan blueprint pembinaan sepak bola usia dini secara nasional, termasuk evaluasi terhadap keberadaan Sekolah Sepak Bola (SSB).
“SSB harus profesional. Jangan sampai menjadi sekadar ladang bisnis. Anak-anak dan orang tua harus mendapatkan pembinaan yang berkualitas, dengan pelatih berlisensi dan kurikulum yang jelas,” ujarnya.
Ketiga, Deddy meminta pengelola SSB mengedepankan aspek pendidikan dan pembentukan karakter pemain muda.
“Berhenti menjual mimpi. Jangan jadikan anak-anak desa sebagai sapi perah. Buat kompetisi usia dini yang benar, dengan pelatih yang benar-benar mendidik, bukan memaki,” katanya.
Deddy menegaskan, harapannya terhadap sepak bola Indonesia sebenarnya sederhana. Ia mengaku tidak keberatan apabila masyarakat harus menunggu lebih lama untuk melihat Timnas meraih prestasi, selama proses pembinaannya berjalan secara konsisten.
“Kami tidak butuh menang instan dengan cara menyewa kebanggaan. Kami butuh proses yang membuat kami bangga,” ucapnya.
Ia berharap kompetisi usia dini dapat berjalan secara berjenjang, mulai dari U-10 hingga level senior, serta tersedia akses pembinaan bagi anak-anak berbakat dari keluarga kurang mampu.
“SSB gratis untuk anak miskin berbakat, pelatih lokal dihargai. Karena bagi kami, Timnas itu bukan sekadar 11 pemain yang menang di lapangan. Timnas itu adalah cerminan jati diri bangsa,” tutur Deddy.
Menutup pernyataannya, Deddy mengatakan masyarakat ingin melihat Timnas yang tidak hanya memberikan kemenangan, tetapi juga menghadirkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap proses pembentukan pemainnya.
“Kami ingin menyanyi Indonesia Raya bersama pemain yang juga menangis saat menyanyikannya,” pungkasnya. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:




0Komentar