Kabaran Jabar, - Di tengah dunia yang kian bising oleh dentuman konflik dan adu kekuatan global, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia (Gelora) mengingatkan bahwa arah peradaban saat ini lebih condong ke medan perang ketimbang meja perundingan.
Dalam lanskap seperti itu, suara yang didengar bukanlah yang paling benar, melainkan yang paling kuat.
Pesan tersebut disampaikan saat ia berbicara di hadapan akademisi dan mahasiswa UIN Raden Mas Said, Surakarta, Jawa Tengah, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan, Indonesia tidak boleh puas menjadi penonton dalam percaturan global. Negara ini harus membangun kekuatan—ekonomi, politik, dan peradaban—agar mampu memainkan peran strategis di dunia internasional.
Salah satu jalan yang ditawarkan adalah memperkuat integrasi ekonomi dan politik dengan Dunia Islam.
Menurutnya, potensi kerja sama ini bukan sekadar wacana ideologis, melainkan fakta ekonomi yang sudah nyata.
Dalam sektor perdagangan, misalnya, nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Dunia Islam menempati peringkat ketiga, hanya berada di bawah China dan ASEAN.
Angka tersebut bahkan melampaui nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Fakta ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa Dunia Islam adalah mitra strategis yang selama ini belum digarap secara maksimal.
Ia mengajak kalangan kampus untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga penggerak gagasan besar tentang masa depan Indonesia.
Di tengah dunia yang semakin keras, kekuatan bangsa—yang dibangun dari ilmu, persatuan, dan keberanian mengambil posisi—menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar hadir, tetapi diperhitungkan. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar