Kabaran Jabar, - Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, melontarkan peringatan serius terkait arah perkembangan geopolitik global yang kian mengkhawatirkan.
Ia menilai, ancaman perang nuklir atau Perang Dunia (PD) III kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan tinggal menunggu satu pemicu saja apabila eskalasi ketegangan internasional terus dibiarkan berlarut.
“Perang nuklir saat ini tinggal ada pemantiknya saja. Dunia seperti sedang menunggu satu pemicu lagi. Kita tentu berharap dunia tetap baik-baik saja,” ujar Mahfuz dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Mahfuz dalam forum Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Dunia III” yang digelar pada Jumat (30/1/2026) malam. Dalam kajian itu, Mahfuz memetakan sejumlah titik panas global yang berpotensi memicu konflik berskala dunia.
Menurutnya, terdapat tiga hotspot utama yang saat ini berada pada level paling berbahaya. Pertama, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.
Kedua, ketegangan strategis antara Amerika Serikat dan China. Ketiga, konflik Israel dan Iran yang dinilainya semakin mendekati titik kritis.
“Khusus konflik Israel-Iran, Israel mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dan situasinya sekarang semakin memanas,” kata Mahfuz.
Ia mengungkapkan, Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln menuju Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal kesiapan serangan terhadap Iran.
“Trump secara terbuka berkali-kali menyatakan akan menyerang Iran. Armada lautnya sudah dikerahkan. Jika Iran diserang, maka balasan pasti terjadi,” ujarnya.
Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2016 itu berharap Presiden Trump, yang juga berlatar belakang pebisnis, dapat melakukan kalkulasi ulang atas rencana militernya.
Menurut Mahfuz, perang dunia tidak akan menghasilkan pemenang, melainkan kerugian besar bagi seluruh umat manusia.
“Kita tahu Iran memiliki senjata nuklir. Senjata itu bisa digunakan ketika mereka terdesak. Karena itu, kami berharap Trump menggunakan logika bisnisnya, bahwa perang dunia tidak akan menguntungkan siapa pun,” tegasnya.
Mahfuz menambahkan, jika perang nuklir pecah, konflik tersebut tidak akan berhenti pada tiga negara saja.
Negara-negara pemilik senjata nuklir lain seperti Prancis, Rusia, China, Pakistan, India, hingga Korea Utara berpotensi terseret dalam pusaran konflik global.
Ia juga memaparkan simulasi dampak perang nuklir terhadap peradaban manusia. Meski berlangsung dalam waktu singkat, dampaknya akan bersifat destruktif dan jangka panjang.
“Perang nuklir mungkin cepat, tapi kerusakan dunia akan total. Bisa terjadi kelaparan global yang berdampak pada sekitar 4 miliar manusia,” ungkapnya.
Mahfuz menilai, meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam PD III, dampak tidak langsung seperti perubahan iklim ekstrem dan krisis pangan global tetap akan dirasakan.
“Ancaman terbesarnya adalah kelaparan. Kita harus memastikan ketahanan nasional kita mampu bertahan,” katanya.
Ia menegaskan, ada tiga pilar utama ketahanan nasional yang harus diperkuat Indonesia, yakni ketahanan pangan, energi, dan sumber daya air.
“Pangan tidak boleh terus impor, harus swasembada. Energi harus mandiri dan mengembangkan energi alternatif. Sementara air, jangan dianggap mudah, karena dalam perang dunia sumber air bisa tercemar. Indonesia harus punya water resilience,” jelasnya.
Sekjen Partai Gelora itu juga menilai, pemerintah perlu memfokuskan pembangunan pada penguatan tiga aspek ketahanan tersebut melalui tata kelola pemerintahan yang lebih terdesentralisasi.
“Negara yang terlalu tersentralisasi dalam situasi krisis sistemik akan kesulitan beradaptasi. Daerah menjadi bergantung pada pusat dan kehilangan inovasi,” ujarnya.
Menurut Mahfuz, kebijakan otonomi daerah yang telah diterapkan Indonesia merupakan modal penting untuk menghadapi krisis global, meski pelaksanaannya masih perlu dimaksimalkan.
“Alhamdulillah Indonesia sudah memilih jalan desentralisasi. Ini harus diperkuat agar bangsa ini mampu bertahan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian,” pungkasnya. **
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar