Kabaran Jabar, - Gubernur Dedi Mulyadi memerintahkan seluruh kepala desa dan aparat dinas pendidikan di wilayah Jawa Barat untuk melakukan aksi “jemput bola” dengan mendatangi rumah anak-anak yang putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikan.
Langkah cepat tersebut diambil sebagai respons atas data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah anak putus sekolah tertinggi di Indonesia.
“Kami akan mendata anak tidak sekolah, lalu mereka akan didatangi oleh aparat terkait, mulai dari kepala desa, dinas pendidikan, hingga pengawas sekolah, untuk didorong kembali bersekolah,” ujar Dedi di Bandung.
Pria yang akrab disapa KDM itu menegaskan bahwa faktor ekonomi tidak boleh lagi menjadi alasan anak berhenti sekolah.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata dia, menjamin akses pendidikan gratis bagi masyarakat tidak mampu, baik di sekolah negeri maupun swasta, khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang kini sepenuhnya ditanggung pemerintah daerah.
“Masalah anak tidak sekolah, terutama di pendidikan dasar, menjadi perhatian utama kami. Solusinya adalah memastikan sekolah gratis bagi masyarakat tidak mampu, baik di sekolah negeri maupun swasta,” tegasnya.
Dedi menilai persoalan anak putus sekolah tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif. Menurutnya, dibutuhkan intervensi sosial langsung di lapangan agar pemerintah mengetahui secara nyata hambatan yang dihadapi masing-masing keluarga.
Selain program jemput bola, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga tengah mengkaji kesiapan infrastruktur teknologi dan pemetaan data untuk kemungkinan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh sebagai alternatif bagi siswa yang terkendala akses fisik menuju sekolah.
“Ke depan, akan dilakukan pemetaan dan pendataan untuk memastikan implementasi PJJ berjalan efektif,” tambahnya.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tercatat sebanyak 106.196 anak di Jawa Barat saat ini tidak mengenyam pendidikan formal.
Melalui kombinasi kebijakan pembiayaan penuh, pendataan aktif hingga tingkat desa, serta kesiapan sistem digital, Pemerintah Provinsi Jawa Barat optimistis angka putus sekolah dapat ditekan secara signifikan dalam waktu dekat. **


0Komentar