Kabaran Jabar, - Di tengah zaman serba cepat, membaca sering dianggap kegiatan biasa. Padahal, buku bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan senjata paling sunyi yang mampu mengubah cara berpikir seseorang.
Normalisasi membaca bukan membuat orang jinak, justru bisa menjadikannya lebih berbahaya karena ia bergerak dengan pengetahuan, bukan sekadar emosi.
Orang yang banyak membaca tidak mudah dibodohi. Ia tahu cara memilah informasi, mengenali tipu daya, dan memahami bagaimana dunia bekerja. Saat bicara, kata-katanya punya isi. Bukan sekadar ramai, tetapi mengandung gagasan, pengalaman, dan sudut pandang yang matang.
Membaca juga melatih keberanian yang berbeda. Bukan keberanian meledak-ledak tanpa arah, tetapi keberanian yang sadar tujuan. Saat melawan ketidakadilan, ia tahu medan, tahu strategi, dan paham apa yang sedang diperjuangkan. Perlawanan semacam ini jauh lebih kuat dibanding kemarahan kosong.
Buku mengajarkan banyak hal: sejarah kegagalan manusia, kemenangan yang diraih dengan susah payah, hingga cara bertahan di masa sulit. Dari sana lahir kepala dingin, keteguhan sikap, dan kemampuan mengambil keputusan dengan tenang.
Karena itu, mulai dari membaca. Isi kepala terlebih dahulu, baru bergerak. Hancurkan kebodohan, lawan penindasan, dan ubah keadaan dengan pikiran yang tajam.
IQRA—bacalah. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari mereka yang mau membuka halaman pertama. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar