Kabaran Jabar, - Bandung, 11 April 2011. Sebuah tanggal yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, namun tidak bagi Warsono atau yang biasa dipanggil Bons Punks kala itu.
Hari itu menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang penuh warna, getir, sekaligus hangat oleh kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Di sudut-sudut jalanan Kota Bandung, Mas Bons menapaki hari dengan gitar sederhana dan suara yang menjadi satu-satunya modal untuk bertahan.
Aspal panas, lalu lalang kendaraan, serta wajah-wajah asing menjadi panggungnya. Tak ada lampu sorot, tak ada tepuk tangan meriah hanya recehan yang jatuh ke dalam wadah kecil dan senyuman singkat dari orang-orang yang lewat.
Namun justru di situlah cerita itu hidup.
Setiap lagu yang dinyanyikan bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan perjalanan batin. Ada harapan yang diselipkan dalam lirik, ada luka yang disamarkan dalam nada.
Jalanan Bandung kala itu bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi ruang belajar tentang arti bertahan, tentang harga diri, dan tentang mimpi yang tak boleh padam.
Mas Bons bukan sekadar pengamen. Ia adalah saksi dari kerasnya kehidupan, sekaligus bukti bahwa semangat tak selalu lahir dari kemewahan.
Bersama rekan-rekan seperjalanan, ia membangun ikatan yang tak tergantikan persahabatan yang lahir dari kesamaan nasib dan tujuan, bertahan hari ini, dan berharap esok lebih baik.
Kenangan itu kini menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Jalanan yang dulu keras, kini justru terasa hangat ketika diingat. Setiap sudut kota menyimpan cerita, setiap langkah meninggalkan jejak yang tak akan hilang.
Bandung, dengan segala hiruk-pikuknya, pernah menjadi rumah bagi mimpi-mimpi kecil yang terus diperjuangkan. Dan Mas Bons, dengan segala kesederhanaannya, telah menuliskan kisah yang tak hanya layak dikenang, tetapi juga diceritakan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa megah panggung yang dimiliki, melainkan seberapa kuat kita bertahan saat tidak ada siapa pun yang menyaksikan. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:


0Komentar