Kabaran Jabar, - Di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terbendung, ironi justru mencuat: kebenaran semakin sulit ditemukan.
Ruang publik dipenuhi narasi yang tampak meyakinkan, namun kerap menyimpan kepura-puraan dan kepentingan tersembunyi.
Dalam situasi ini, suara kritis jurnalis perlahan terdesak ke pinggir, seolah kehilangan ruang untuk bernapas.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan hoaks yang beredar liar. Lebih dari itu, ada pola yang lebih kompleks sebuah kondisi di mana ketidaktahuan seakan dipelihara, bahkan disengaja.
Informasi tidak lagi disajikan untuk mencerahkan, melainkan diarahkan untuk membentuk persepsi sesuai kepentingan tertentu.
Fakta pun tak jarang dikaburkan, dipotong, atau dipelintir hingga kehilangan makna utamanya.
Sejumlah jurnalis mengungkapkan bahwa tantangan yang mereka hadapi kini jauh lebih berat dibanding sebelumnya.
Tekanan datang dari berbagai arah, baik secara langsung maupun terselubung. Mereka tidak hanya berhadapan dengan pihak yang menolak keterbukaan, tetapi juga dengan budaya pembiaran terhadap informasi menyesatkan.
“Yang kami hadapi bukan sekadar hoaks, tapi sikap pura-pura tidak tahu. Ada pembiaran yang membuat kebohongan terasa seperti kebenaran,” ujar seorang jurnalis yang memilih anonim.
Dalam kondisi seperti ini, kerja jurnalistik menjadi medan yang penuh risiko. Upaya menggali fakta sering kali berbenturan dengan kepentingan yang tidak menghendaki transparansi.
Bahkan, informasi yang disajikan secara utuh pun bisa kalah oleh narasi yang dibangun secara sistematis dan masif.
Praktik “kibulan” informasi penyampaian setengah kebenaran kian memperkeruh keadaan.
Publik dihadapkan pada berbagai versi cerita yang saling bertentangan, membuat batas antara fakta dan opini menjadi kabur. Akibatnya, kepercayaan terhadap media perlahan tergerus.
Sementara itu, Pengamat Media Litbang Demokrasi, Purbo Satrio menilai, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka jurnalisme berisiko kehilangan fungsinya sebagai pilar demokrasi.
Ketika publik tidak lagi percaya pada informasi yang disajikan, maka ruang dialog yang sehat pun ikut runtuh.
Namun di balik tekanan dan kebungkaman itu, jurnalis tetap berdiri. Dengan segala keterbatasan, mereka terus berupaya menjaga nyala kebenaran. Integritas, keberanian, dan komitmen menjadi bekal utama dalam menghadapi gelombang manipulasi informasi yang kian kuat.
"Jeritan jurnalis mungkin tak selalu terdengar lantang. Namun di setiap laporan yang jujur, di setiap fakta yang diungkap, ada perlawanan sunyi terhadap kepura-puraan," ungkap Purbo Satrio.
Sebuah pengingat bahwa kebenaran, sejatinya, tidak pernah benar-benar bisa dibungkam. (Red)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar