Kabaran Jabar, - Di tengah gencarnya klaim penyaluran bantuan sosial yang disebut semakin tepat sasaran, kenyataan berbeda justru terlihat di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Seorang warga bernama Pak Emad hidup dalam keterbatasan, namun namanya justru tak lagi tercatat sebagai penerima bantuan pemerintah.
Pak Emad tinggal bersama istrinya di rumah sederhana yang jauh dari standar kelayakan. Dinding bangunan terbuat dari kayu yang dilapisi GRC, sementara lantainya masih sangat sederhana. Rumah itu dibangun sendiri dari hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
Meski kondisi ekonominya memprihatinkan, Pak Emad mengaku hanya pernah menerima bantuan sosial satu kali sebesar Rp900 ribu. Setelah itu, ia tidak pernah lagi mendapat bantuan saat penyaluran dilakukan.
Ironisnya, persoalan ini disebut bukan hanya dialami Pak Emad seorang diri. Ketua RT setempat, Ihsan, mengaku kebingungan karena data warga kurang mampu telah diajukan, namun hasil penerima yang turun justru berbeda.
“Data sudah kami serahkan. Tapi setiap bantuan datang, nama-nama yang seharusnya menerima justru tidak ada. Ini bukan cuma Pak Emad,” ujarnya kepada Media kami, pada Minggu (19/4/2026).
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai validitas data penerima bantuan sosial.
Jika usulan dari tingkat lingkungan sudah disampaikan, tetapi tidak muncul dalam daftar akhir, maka ada kemungkinan persoalan terjadi dalam proses verifikasi, pembaruan data, atau distribusi.
Sementara itu, Pak Emad tetap berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan menggarap lahan hutan milik orang lain. Ia tidak memiliki tanah pribadi, pendapatan tetap, maupun jaminan ekonomi yang jelas.
Hingga berita ini ditulis, pihak pemerintah desa belum memberikan penjelasan resmi terkait dugaan ketidaktepatan sasaran bantuan sosial tersebut. Proses konfirmasi masih terus diupayakan.
Kasus ini menjadi cermin bahwa di balik laporan penyaluran bansos, masih ada warga yang luput dari perhatian.
Jika tidak segera dibenahi, bantuan sosial hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan tetap bertahan sendiri tanpa kepastian. (Poy)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:



0Komentar