TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Andi Halim Dorong Dewan Tak Alergi Wartawan, Aspirasi Publik Harus Terbuka

Andi Halim Dorong Dewan Tak Alergi Wartawan, Aspirasi Publik Harus Terbuka

Andi Halim Dorong Dewan Tak Alergi Wartawan, Aspirasi Publik Harus Terbuka
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Penjara, Andi Halim, menyoroti pentingnya keterbukaan antara masyarakat, wakil rakyat, dan insan pers dalam menyampaikan serta mengawal aspirasi publik.

Menurut Andi, aspirasi masyarakat tidak semestinya hanya berhenti dalam forum reses anggota DPRD berdasarkan daerah pemilihan (dapil).

Aspirasi tersebut juga perlu disampaikan kepada masyarakat secara luas melalui media massa agar dapat diketahui, dikawal, dan menjadi perhatian bersama.

“Jadi aspirasi itu bukan hanya disampaikan di dapil atau konstituen, tetapi juga harus disampaikan kepada masyarakat umum melalui media,” ujar Andi dalam sebuah bincang bersama awak media di tempat kediamannya, pada Minggu (30/8/2026).

Ia berharap para anggota DPRD tidak alergi terhadap kehadiran wartawan ketika menjalankan kegiatan reses.
Andi Halim Dorong Dewan Tak Alergi Wartawan, Aspirasi Publik Harus Terbuka
Andi Halim Dorong Dewan Tak Alergi Wartawan, Aspirasi Publik Harus Terbuka
Sebaliknya, keterbukaan terhadap media dinilai penting agar masyarakat mengetahui secara langsung apa saja aspirasi yang disampaikan warga dan bagaimana tindak lanjutnya.

Andi juga menyinggung kondisi kesejahteraan wartawan yang menurutnya masih menjadi perhatian.

Di tengah tuntutan profesionalisme dan kreativitas yang tinggi, insan pers juga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan operasional di lapangan.

“Wartawan dituntut kreatif, dituntut profesional, dan dituntut bisa menyampaikan informasi. Saya tidak perlu mengajari ikan berenang. Kita sama-sama orang lapangan, silakan dengan caranya masing-masing,” katanya.

Namun, Andi menegaskan bahwa persoalan pemberian apresiasi kepada wartawan tidak boleh menjadi dasar untuk membeda-bedakan insan pers berdasarkan latar belakang medianya.

Ia berharap tidak ada lagi kesenjangan perlakuan antara media nasional, media lokal maupun media lainnya selama menjalankan tugas jurnalistik sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jangan dibeda-bedakan, ini media nasional, ini media lokal. Bagi saya sama. Semua wartawan berada dalam naungan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan memiliki kode etik jurnalistik,” tegasnya.

Soroti Masa Depan PPP

Dalam kesempatan tersebut, Andi Halim juga berbicara mengenai masa depan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), khususnya di Kota Cimahi.

Ia menilai PPP memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik Indonesia dan masih mempunyai basis masyarakat yang perlu kembali dirangkul melalui kerja-kerja nyata.

Andi berpandangan, tantangan PPP ke depan bukan semata-mata terletak pada keberadaan partainya, melainkan bagaimana para pengurus mampu menghidupkan kembali mesin organisasi dan membangun kedekatan dengan masyarakat.

Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PPP di Kota Cimahi, ia mengaku telah mendorong jajaran pengurus untuk memperkuat struktur partai mulai dari tingkat kota hingga kecamatan dan kelurahan.

“Struktur-strukturnya akan dibenahi. Sosialisasi kepada masyarakat juga harus diperkuat dengan program-program kemasyarakatan yang nyata. Kita harus terus memberikan solusi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Andi, PPP harus mampu tampil sebagai partai yang solutif, bukan hanya hadir ketika momentum politik tiba.

Ia juga menyebut adanya tekad dari jajaran kader dan pengurus untuk meningkatkan posisi politik PPP di Kota Cimahi. Target politik tersebut, kata dia, harus dibangun melalui kerja nyata dan konsistensi dalam menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Kalau bercita-cita, jangan tanggung. Kalau ingin menjadi ketua DPRD, sekalian punya cita-cita menjadi wali kota,” ujarnya.

Wartawan dan Masyarakat Harus Diperlakukan Setara

Menutup bincang tersebut, Andi kembali menegaskan pentingnya membangun hubungan yang sehat antara organisasi masyarakat, politisi, masyarakat dan media.

Ia mengapresiasi kehadiran para wartawan yang datang untuk berdialog secara langsung. Menurutnya, komunikasi di lapangan harus dibangun dengan suasana egaliter tanpa membeda-bedakan satu wartawan dengan wartawan lainnya.

“Berapa pun rezeki yang saya bagi hari ini, tolong diterima dengan ikhlas supaya berkah. Saya tidak membedakan wartawan yang satu dengan yang lainnya. Semua sama,” katanya.

Andi berharap hubungan antara wakil rakyat dan media ke depan semakin terbuka. Menurutnya, media memiliki posisi penting dalam menyampaikan informasi sekaligus menjadi jembatan antara masyarakat dengan para pemangku kebijakan.

“Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” pungkas Andi. (Bd20)

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar