TfY7GUziTSC9BSGpTSOoBUz7TY==
Light Dark
Gunung Anak Krakatau Meningkat BNPB Pastikan Masyarakat Aman

Gunung Anak Krakatau Meningkat BNPB Pastikan Masyarakat Aman

Gunung Anak Krakatau Meningkat BNPB Pastikan Masyarakat Aman
Daftar Isi
×
Kabaran Jabar, - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami peningkatan. Erupsi menerus terjadi pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh serta semburan merah menyala yang terpantau secara terus-menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Banten.

Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karakter aktivitas tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dilaporkan masih berlangsung dalam beberapa jam setelah kejadian awal.
Gunung Anak Krakatau Meningkat BNPB Pastikan Masyarakat Aman
Gunung Anak Krakatau Meningkat BNPB Pastikan Masyarakat Aman
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.

Abu Vulkanik Berpotensi Bergerak ke Arah Jawa Barat

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat Jawa Barat karena material abu vulkanik dapat terbawa angin dan bergerak menjauh dari pusat erupsi.

Pemantauan arah pergerakan abu dilakukan melalui pengamatan atmosfer dan citra satelit. BMKG juga menyediakan pemantauan khusus terhadap sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit.

Namun, masyarakat perlu membedakan antara abu vulkanik yang terdeteksi bergerak menuju suatu wilayah dengan abu yang telah dipastikan jatuh di wilayah tersebut.

Dengan demikian, informasi yang menyebutkan bahwa “Sukabumi diserbu abu vulkanik” perlu disikapi secara hati-hati. Berdasarkan informasi resmi yang tersedia, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa seluruh wilayah Sukabumi telah mengalami hujan abu vulkanik.

Dentuman Dilaporkan Terdengar di Sejumlah Wilayah

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga dikaitkan dengan laporan masyarakat mengenai suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Badan Geologi menyebut suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Sementara itu, BMKG masih melakukan analisis terhadap laporan tersebut. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat aktivitas gempa bumi di wilayah Bandung Raya yang dapat menjelaskan laporan suara dentuman tersebut.

BMKG juga menemukan anomali pada data magnet bumi yang terekam di stasiun Sukabumi dan Serang. Namun, anomali tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab suara dentuman yang dilaporkan masyarakat.

Dengan demikian, sumber pasti suara dentuman yang dirasakan warga masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Tidak Ada Peringatan Tsunami

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan masyarakat pada tragedi tsunami Selat Sunda pada Desember 2018. Namun, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan kondisi sebelum peristiwa tersebut.

Badan Geologi menyatakan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, aktivitas vulkanik tetap dipantau secara intensif. Potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai saat ini meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu vulkanik lebat.

Masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi dari lembaga berwenang dan tidak mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat di wilayah Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta mengikuti arahan pemerintah daerah, BPBD, dan informasi resmi dari PVMBG.

Bagi masyarakat Jawa Barat, termasuk Sukabumi, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama apabila terjadi perubahan kondisi atmosfer atau apabila abu vulkanik benar-benar teramati turun di suatu wilayah.

Apabila terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat disarankan untuk:

- menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan;
- melindungi mata dari paparan abu;
- mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk;
- mengikuti informasi dan arahan dari pemerintah daerah serta instansi terkait.

Yang tidak kalah penting, masyarakat tidak perlu panik dan tidak menyebarluaskan informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau sebelum memastikan kebenaran serta sumber informasinya.

Informasi mengenai aktivitas vulkanik sebaiknya merujuk pada laporan resmi Badan Geologi/PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan instansi pemerintah terkait.

Reporter: Kabaran Jabar
Sumber: Badan Geologi/ESDM, PVMBG, dan BMKG.

Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar