Kabaran Jabar, - Terpilihnya Wali Kota Cimahi Ngatiyana sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Cimahi periode 2026–2031 melalui Musda VI pada Senin (21/9/2026), membuka babak baru dalam peta politik Kota Cimahi.
Perpindahan Ngatiyana dari PKB partai yang menjadi salah satu kendaraan politiknya pada Pilkada 2024 ke Partai Golkar menjadi perhatian karena berlangsung berdekatan dengan momentum Musda.
Dalam waktu relatif singkat, ia kemudian dipercaya memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut di tingkat kota.
Perubahan itu bukan sekadar pergantian warna atribut politik. Jabatan Ketua DPD membawa tanggung jawab organisasi, konsolidasi kader, proses kandidasi, pengelolaan partai, hingga hubungan politik dengan struktur legislatif.
Karena itu, kepemimpinan Ngatiyana di Golkar Cimahi akan menjadi ujian politik sekaligus organisatoris.
Menyatukan Golkar Lama dan Gerbong Baru
Tantangan pertama berada di dalam tubuh partai sendiri.
Sebagai ketua baru, Ngatiyana harus membangun konsolidasi dari tingkat DPD, pimpinan kecamatan hingga struktur kelurahan. Pergantian kepemimpinan juga membuka kemungkinan terjadinya penataan ulang organisasi sesuai mekanisme internal partai.
Di sinilah kemampuan Ngatiyana menyatukan berbagai kelompok akan diuji.
Golkar Cimahi memiliki sejarah, kader, loyalis dan pengalaman politik sebelum dirinya masuk ke dalam struktur kepemimpinan.
Pada Pilkada 2024, konfigurasi politik juga memperlihatkan adanya kelompok-kelompok dengan pilihan politik yang berbeda.
Kini seluruhnya berada dalam satu rumah.
Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang berada di barisan ketua baru, tetapi bagaimana seluruh elemen tersebut dapat bekerja dalam satu garis organisasi tanpa muncul dualisme kepemimpinan atau friksi berkepanjangan.
Latar belakang Ngatiyana sebagai purnawirawan TNI dengan penekanan pada soliditas dan loyalitas juga akan berhadapan dengan karakter politik yang memiliki dinamika berbeda.
Dalam organisasi politik, loyalitas tidak hanya diuji melalui struktur, tetapi juga melalui kemampuan mengakomodasi perbedaan.
Dari Konsolidasi ke Kandidasi 2029
Kewenangan berikutnya memiliki dimensi lebih panjang: rekrutmen dan kandidasi politik.
Partai politik akan memasuki tahapan penting menuju Pemilu 2029. Di titik tersebut, struktur Golkar Cimahi akan memiliki peran dalam proses penjaringan dan pengusulan kandidat legislatif sesuai mekanisme organisasi dan ketentuan partai.
Posisi Ngatiyana juga menarik karena ia kini berada di dua ruang politik sekaligus: sebagai kepala daerah dan sebagai pimpinan partai politik.
Konstelasi tersebut membuat periode 2026–2031 menjadi masa yang penting untuk melihat arah regenerasi Golkar Cimahi.
Apakah mesin partai akan diarahkan untuk memperkuat kaderisasi dan menyiapkan kandidat baru? Ataukah popularitas dan posisi politik ketua akan menjadi salah satu pusat gravitasi politik Golkar menjelang 2029?
Jawabannya akan terlihat melalui keputusan-keputusan politik yang diambil sepanjang masa kepengurusan.
Mesin Partai dan Persoalan Pembiayaan
Partai politik juga membutuhkan organisasi yang sehat secara administratif dan finansial.
Pengelolaan keuangan, iuran kader, aset organisasi, kegiatan konsolidasi hingga operasional kantor partai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sebuah organisasi politik.
Karena itu, kepemimpinan Ngatiyana akan menghadapi pekerjaan rumah untuk memastikan mesin organisasi berjalan secara tertib, transparan, dan sesuai ketentuan hukum serta aturan internal partai.
Kedekatan dengan dunia usaha maupun berbagai kelompok masyarakat juga akan menjadi bagian dari dinamika politik lokal. Namun, dukungan terhadap aktivitas politik harus tetap berada dalam koridor hukum dan aturan pendanaan politik yang berlaku.
Partai besar membutuhkan mesin besar. Tetapi mesin politik tidak hanya diukur dari banyaknya spanduk atau kegiatan seremonial.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah struktur organisasi benar-benar bekerja di tengah masyarakat.
Dua Jabatan, Dua Tanggung Jawab
Bagian paling sensitif dari kepemimpinan Ngatiyana adalah persinggungan antara jabatan publik dan jabatan politik.
Sebagai Wali Kota, Ngatiyana merupakan kepala pemerintahan daerah yang bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat Cimahi, bukan hanya kepada pemilih atau pendukung partai tertentu.
Di sisi lain, sebagai Ketua DPD Golkar, ia mempunyai tanggung jawab terhadap organisasi dan kader partainya.
Dua posisi tersebut memiliki ruang kerja yang berbeda.
Di sinilah prinsip yang pernah disampaikan Ngatiyana tentang dirinya sebagai wali kota untuk semua warga menjadi relevan untuk diuji dalam praktik pemerintahan sehari-hari.
Sinergi antara pemerintah daerah dan legislatif tentu dapat membantu pembahasan program pembangunan. Namun, sinergi tersebut tetap membutuhkan batas yang jelas antara kepentingan pemerintahan dan kepentingan partai.
Transparansi, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap aturan menjadi penting agar tidak muncul persepsi bahwa kebijakan publik diarahkan untuk kepentingan organisasi politik tertentu.
Golkar Harus Terlihat dari Manfaatnya
Saat Musda, Ngatiyana menyampaikan pesan bahwa Golkar tidak cukup hanya meminta masyarakat mengenal partai, tetapi partai harus membuktikan manfaatnya kepada masyarakat.
Pernyataan tersebut dapat menjadi ukuran sederhana bagi kepengurusan baru.
Warga Cimahi tentu tidak hanya membutuhkan baliho, agenda seremonial, atau deklarasi politik. Persoalan sehari-hari seperti pelayanan publik, lapangan pekerjaan, ekonomi masyarakat, lingkungan, infrastruktur dan kebutuhan dasar jauh lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Karena itu, tantangan terbesar Ngatiyana bukan sekadar mempertahankan eksistensi Golkar sebagai organisasi politik.
Tantangannya adalah mengubah struktur partai menjadi organisasi yang memiliki kerja nyata di tengah masyarakat.
Lima Tahun yang Akan Menentukan
Periode 2026–2031 masih panjang.
Di dalamnya terdapat konsolidasi internal, persiapan Pemilu 2029, dinamika Pilkada berikutnya, regenerasi kader, serta tuntutan agar pemerintahan daerah tetap berjalan untuk seluruh warga.
Ngatiyana kini memegang dua mandat yang berbeda: mandat publik sebagai Wali Kota dan mandat organisasi sebagai Ketua DPD Golkar.
Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi harus ditempatkan pada batas dan aturan masing-masing.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan Ngatiyana di Golkar Cimahi tidak hanya akan terlihat dari seberapa kuat struktur partai berdiri, melainkan dari bagaimana organisasi tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat.
Sebab politik lokal pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di kursi kekuasaan.
Politik juga berbicara tentang apa yang dirasakan warga setelah keputusan politik dibuat.
Dan mulai sekarang, publik Cimahi memiliki alasan untuk memperhatikan setiap langkah kepemimpinan baru Partai Golkar tersebut.
Oleh: Ketua Umum Cobra Baros Ranger (COBRA) Kota Cimahi, Deddy Supriadi.
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:




0Komentar