Kabaran Jabar, - Penerapan sistem parkir baru berbasis pintu gate otomatis dengan karcis elektronik di kawasan Pasar Atas Cimahi menuai berbagai keluhan dari masyarakat. Tidak hanya pengunjung dan pedagang, warga sekitar pun merasakan dampak langsung dari perubahan kebijakan tersebut.
Sistem parkir yang kini dikelola pihak ketiga, yakni PT Sentryprak Utama Indonesia, menggantikan pengelolaan lama yang sebelumnya dijalankan oleh warga setempat selama lebih dari lima tahun. Peralihan ini terjadi setelah proses tender yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Cimahi.
Warga dari RW 05, RW 08, dan RW 09 menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka mengaku kehilangan mata pencaharian yang selama ini bergantung pada pengelolaan parkir di kawasan tersebut.
Deni, salah seorang warga RW 05, mengungkapkan kekecewaannya saat ditemui awak media, Rabu (1/4/2026). Ia menyebutkan bahwa selain kehilangan pekerjaan, sistem baru juga tidak memberikan penghasilan yang layak bagi warga yang masih dipekerjakan.
“Sekarang penghasilan jauh di bawah UMR, beda sekali dengan sebelumnya saat masih dikelola warga,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Rahmat Hidayat, warga RW 08. Ia menuturkan, dari sekitar 20 orang yang sebelumnya bekerja sebagai pengelola parkir, kini hanya empat orang yang masih diakomodasi oleh pihak perusahaan.
“Bahkan menjelang lelang, kami dua kali mengajukan surat audiensi ke dewan, namun tidak mendapat respons dari Komisi II. Kami merasa aspirasi warga tidak tersampaikan,” katanya.
Di sisi lain, para pedagang Pasar Atas juga mengaku terdampak. Mereka menilai sistem parkir elektronik justru menyulitkan pengunjung, sehingga berdampak pada penurunan jumlah pembeli.
Warga sebenarnya sempat berupaya mengikuti proses tender agar tetap dapat mengelola parkir secara mandiri. Namun, mereka kalah bersaing dengan perusahaan dari luar daerah tersebut.
Kini, warga berharap Pemerintah Kota Cimahi dapat mengevaluasi kebijakan pengelolaan parkir tersebut. Mereka meminta agar aspek sosial, khususnya nasib warga lokal yang kehilangan sumber penghasilan, menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ke depan. **
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:

0Komentar