Kabaran Jabar, - Band heavy metal Diktator kembali menegaskan eksistensinya di kancah musik cadas Indonesia dengan membawa semangat perlawanan melalui karya-karya yang lahir dari keresahan sosial.
Setelah sempat vakum akibat kesibukan para personel, Diktator kini kembali aktif berkarya dan tengah mempersiapkan album terbaru yang akan menjadi album keempat mereka.
Vokalis Diktator, Andy Londho, menjelaskan bahwa cikal bakal band ini bermula pada tahun 1995.
Saat itu Diktator sempat mengikuti proses kompilasi Metalik Klinik 3, namun karya mereka tidak berhasil masuk dalam rilisan tersebut.
Meski demikian, kegagalan itu tidak mematahkan semangat mereka untuk terus melanjutkan perjalanan bermusik.
"Awalnya kami tetap memilih berjalan dengan jalur yang kami yakini. Dari situlah Diktator mulai terbentuk dengan tiga lagu pertama yang masih banyak dipengaruhi warna musik Metallica," ujar Andy Londho.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas Diktator sempat terhenti karena kesibukan masing-masing personel.
Setelah lebih dari dua dekade, Andy Londho kembali aktif berinteraksi dengan komunitas musik dan terlibat dalam berbagai kegiatan musik bersama komunitas CRB.
Dari pertemuan tersebut lahirlah semangat untuk membangkitkan kembali Diktator bersama personel baru yang memiliki visi serupa.
Menurutnya, Diktator terus beradaptasi dengan perkembangan musik tanpa meninggalkan identitas utamanya sebagai band heavy metal.
Unsur-unsur modern turut disisipkan dalam aransemen lagu, namun tetap mempertahankan benang merah karakter musik yang telah menjadi ciri khas mereka.
Andy Londho juga mengungkapkan bahwa nama Diktator memiliki filosofi yang lebih dalam.
Nama tersebut merupakan singkatan dari "Symphony of Revolution", yang menggambarkan semangat revolusi melalui karya musik.
"Kami melakukan revolusi lewat lagu. Kalau ada yang menyampaikan aspirasi dengan turun ke jalan, kami menyuarakan keresahan melalui musik," katanya.
Sebagian besar lagu Diktator lahir dari berbagai persoalan sosial yang mereka rasakan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Keresahan terhadap kondisi bangsa menjadi inspirasi utama dalam penulisan lirik.
"Kami merasa banyak hal yang perlu disuarakan. Musik menjadi media untuk menyampaikan kritik dan keresahan tanpa harus melakukan aksi di jalan," tambahnya.
Dalam proses kreatif, seluruh personel terlibat aktif menyusun materi lagu. Ide biasanya lahir dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap personel memberikan masukan terhadap aransemen hingga menghasilkan komposisi yang matang.
Selama berkarya di industri musik, Diktator mengaku tidak menghadapi hambatan berarti. Bahkan, lagu-lagu yang mengangkat tema kritik sosial justru mendapat respons positif dari para penikmat musik cadas.
Saat ini Diktator tengah mengumpulkan materi untuk album keempat. Tiga lagu telah selesai dipersiapkan dan mereka menargetkan segera melengkapi materi sebelum memasuki proses produksi.
Di era digital, promosi karya lebih banyak dilakukan melalui kanal YouTube yang dikelola secara mandiri.
Platform tersebut dinilai mampu menjangkau pendengar lebih luas sekaligus menjadi media utama memperkenalkan karya-karya Diktator kepada publik.
Selain itu, Diktator juga pernah melakukan kolaborasi dengan musisi lain, salah satunya pada album kedua melalui lagu "Sesal", yang menjadi salah satu karya kolaboratif mereka.
Menutup perbincangan, Andy Londho memberikan pesan kepada generasi muda yang ingin membentuk band dan berkarya di dunia musik.
"Teruslah berkarya tanpa batas. Jangan pernah berhenti berkreativitas. Terus maju untuk musik Indonesia," pesannya.
Saat ini formasi Diktator diperkuat oleh Andy Londho sebagai guitars, Ahmad Firdaus vocalis, Oki guitar 2, Mang Ucun posisi di drum, Mas Abdul pada bass, serta personel lainnya yang bersama-sama menghidupkan kembali semangat Symphony of Revolution melalui karya-karya heavy metal yang kritis, lantang, dan tetap relevan dengan perkembangan zaman. (Bd20)
Ikuti saluran Kabaran Jabar Portal Informasi di WhatsApp:



0Komentar